Oleh: Sofyan, S.Sos
17 Februari 2026
Malam meugang di Kota Lhokseumawe selalu menghadirkan refleksi. Tradisi mengajarkan bahwa waktu bukan sekadar hitungan kalender, melainkan momentum untuk menilai diri baik sebagai individu maupun sebagai pemegang amanah publik.
Tepat setahun lalu, 17 Februari 2025, Sayuti–Husaini resmi memulai kepemimpinan setelah dilantik oleh Gubernur Aceh, Muzakir Manaf. Sejak saat itu, mandat politik berubah menjadi tanggung jawab pemerintahan.
Satu tahun memang belum cukup untuk memberikan penilaian akhir. Namun satu tahun sudah cukup untuk membaca arah. Dan arah itulah yang kini layak dievaluasi.
Kepemimpinan Mengelola atau Mengubah? Dalam teori kepemimpinan publik, terdapat perbedaan mendasar antara kepemimpinan administratif dan kepemimpinan transformatif.
Kepemimpinan administratif memastikan rutinitas berjalan stabil. Kepemimpinan transformatif melampaui itu—ia membongkar pola lama dan membangun sistem baru yang lebih efektif.
Pertanyaannya sederhana: setelah satu tahun, kepemimpinan ini berada di kategori mana?
Visi “Kota Cerdas dan Nyaman Huni” adalah visi yang progresif. Namun visi hanya memiliki makna ketika diterjemahkan ke dalam sistem yang bekerja. Kota tidak membutuhkan slogan yang terdengar modern; kota membutuhkan tata kelola yang terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Jika persoalan sampah masih berulang di berbagai titik, jika penataan kawasan belum menunjukkan pembenahan sistemik, jika jalan yang terdampak proyek SPAM dibiarkan tanpa kepastian perbaikan, maka yang terjadi bukanlah transformasi. Yang terjadi adalah pengelolaan rutinitas dengan kemasan baru.
Kota tidak kekurangan program.
Kota kekurangan konsistensi sistem.
Legitimasi Tidak Berhenti pada Pemilihan
Dalam demokrasi, legitimasi awal diperoleh melalui pemilihan. Namun legitimasi lanjutan ditentukan oleh kinerja.
Tidak diperolehnya Dana Insentif Daerah (DID) tahun 2025 bukan sekadar soal anggaran. Itu merupakan indikator bahwa kinerja pemerintahan belum memperoleh pengakuan berbasis capaian terukur.
Pada periode sebelumnya, kota ini pernah memperoleh DID sekitar Rp5,73 miliar. Artinya, standar kinerja tersebut bukan sesuatu yang mustahil dicapai. Ketika capaian itu tidak lagi diperoleh, maka yang hilang bukan hanya dana, tetapi juga simbol pengakuan atas performa pemerintahan.
Serapan anggaran yang belum optimal pun tidak bisa dipandang sebagai persoalan teknis semata. Ia mencerminkan kemampuan kepemimpinan dalam mengonsolidasikan birokrasi dan memastikan mesin pemerintahan bekerja efektif. Rotasi pejabat memang dilakukan. Namun reformasi birokrasi tidak cukup dengan memindahkan figur. Tanpa perubahan sistem dan target yang terukur, mutasi hanya memindahkan kursi, bukan memperbaiki arah.
Rotasi tanpa reformasi bukanlah pembaruan. Ia hanya pergeseran posisi dalam struktur yang sama.
Masalah Lama, Pola Lama Kota ini menghadapi persoalan klasik parkir semrawut, kawasan kumuh, pengelolaan sampah, potensi kebocoran pendapatan daerah, hingga keterbatasan ruang terbuka hijau. Jika setelah satu tahun pola penyelesaiannya masih bersifat parsial dan reaktif, maka publik berhak mempertanyakan desain kepemimpinan yang dijalankan.
Kepemimpinan diuji bukan pada seberapa banyak program diumumkan, tetapi pada seberapa dalam akar masalah disentuh.
Jika kebijakan belum menyentuh akar persoalan, maka dampaknya hanya bersifat permukaan.
Dan kebijakan permukaan tidak pernah menghasilkan perubahan struktural.
Tahun Pertama sebagai Fondasi
Tahun pertama seharusnya menjadi fondasi. Ia menentukan apakah lima tahun ke depan akan menjadi fase percepatan atau justru perpanjangan stagnasi.
Empat tahun memang masih tersisa. Namun waktu yang panjang tidak otomatis melahirkan perubahan, jika pola tahun pertama tidak menunjukkan keberanian merombak sistem dan memperkuat tata kelola.
Kritik bukanlah bentuk permusuhan. Ia adalah mekanisme penyeimbang dalam demokrasi. Oposisi bukan ancaman bagi pemerintahan ia adalah pengingat agar kekuasaan tidak merasa nyaman dalam rutinitas.
Sejarah tidak mencatat seberapa sering sebuah visi diulang. Sejarah mencatat seberapa nyata perubahan diwujudkan. Satu tahun telah berlalu. Arah sudah mulai terlihat.
Kini publik menunggu apakah kepemimpinan ini akan naik kelas menjadi transformasi yang sesungguhnya, atau tetap berada dalam zona aman pengelolaan administratif?
Waktu akan terus berjalan.
Dan waktu tidak pernah berpihak pada stagnasi.






