Akademisi Turun Tangan: Intervensi Sains untuk Cegah Risiko Penyakit Pascabanjir

Implementasi pengabdian kepada masyarakat oleh dosen Program Studi Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Samudra di Desa Matang Ara, Aceh Tamiang, dalam bentuk distribusi bantuan dan edukasi kesehatan lingkungan pascabanjir, 15 Februari 2026. ( Foto: Ist)

Akademisi Turun Tangan: Intervensi Sains untuk Cegah Risiko Penyakit Pascabanjir

Implementasi pengabdian kepada masyarakat oleh dosen Program Studi Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Samudra di Desa Matang Ara, Aceh Tamiang, dalam bentuk distribusi bantuan dan edukasi kesehatan lingkungan pascabanjir, 15 Februari 2026. ( Foto: Ist)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp MediaKontras.ID

Aceh Tamiang, MediaKontras.id | Upaya pemulihan pascabanjir di Desa Matang Ara, Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang, terus dilakukan melalui pendekatan berbasis kesehatan masyarakat. Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan pada 15 Februari 2026 oleh kalangan akademisi dari Universitas Samudra.

Program ini difokuskan pada penyaluran bantuan berupa kelambu, selimut, serta obat anti-nyamuk kepada warga terdampak, khususnya kelompok rentan. Selain bantuan fisik, kegiatan ini juga diisi dengan edukasi singkat mengenai pencegahan penyakit yang kerap muncul pascabanjir.

Kondisi lingkungan di Desa Matang Ara hingga kini masih menunjukkan dampak banjir, seperti genangan air, kelembapan tinggi, serta penumpukan lumpur dan sampah. Situasi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan risiko penyakit berbasis lingkungan.

“Lingkungan pascabanjir seperti ini sangat rentan terhadap munculnya berbagai penyakit, terutama yang ditularkan melalui air dan vektor seperti nyamuk,” ujar Muslimah, S.Si., M.Si., dosen Program Studi Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Samudra, yang menjadi pelaksana kegiatan.

Ia menjelaskan, penyakit seperti diare, demam berdarah dengue (DBD), leptospirosis, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hingga penyakit kulit sering muncul dalam situasi pascabanjir. Karena itu, langkah pencegahan menjadi sangat penting untuk menekan potensi penyebaran.

Menurutnya, penggunaan kelambu merupakan salah satu langkah sederhana namun efektif untuk melindungi masyarakat dari gigitan nyamuk, terutama pada malam hari. “Kami tidak hanya menyalurkan bantuan, tetapi juga memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang cara penggunaannya agar manfaatnya lebih optimal,” tambahnya.

Selain faktor lingkungan, kondisi sosial seperti kepadatan hunian sementara dan keterbatasan fasilitas sanitasi juga turut memengaruhi tingkat kerentanan masyarakat terhadap penyakit. Hal ini menjadi pertimbangan penting dalam merancang intervensi yang tidak hanya bersifat bantuan langsung, tetapi juga edukatif.

Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat tidak hanya memperoleh bantuan jangka pendek, tetapi juga memiliki kesadaran dan pengetahuan yang lebih baik dalam menjaga kesehatan lingkungan. Pendekatan ini dinilai penting sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan masyarakat dalam menghadapi risiko bencana di masa mendatang.

Kegiatan pengabdian ini merupakan bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam menjalankan fungsi sosial dan kemanusiaan, khususnya dalam merespons situasi darurat dan pemulihan pascabencana secara berkelanjutan.

Topik