MediaKontras.id | Jam menunjukan pukul 9.15 wib, pagi itu langit terlihat cerah, sembulan fajar pun terasa hangat menyinari seantero Langsa dan sekitarnya.
Tepat pada Selasa, 6 Januari 2026, ada sekumpulan ‘pejuang desa’ atau secara nomenklatur disebut Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kementrian Desa (Kemendes) asal Kota Langsa mengayunkan langkahnya menuju titik sasaran untuk sebuah aksi solidaritas menyalurkan bantuan hasil dari penggalangan rekan sejawat.
Dimotori oleh Koordinator Kota (Korkot), Heriansyah Putra S.ST, langkah gegap itu menuju arah Kampung Raja Tuha, Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang untuk menyalurkan sejumlah alquran, sajadah, mukena, kain sarung serta makanan ringan bagi anak-anak korban banjir bandang.
Tentunya kedatangan para pejuang desa dari Langsa telah dinantikan oleh Korkab Aceh Tamiang, Zulfan Arita bersama para Pendamping Desa (PD) serta PLD nya dalam aksi solidaritas bagi korban banjir yang menghempas Kabupaten Aceh Tamiang pada November 2025 lalu sebagai aksi empati dan kepedulian.
Disana bantuan tersebut disalurkan kepada anak-anak yang kehilangan alquran ataupun kelengkapan alat salat yang dipandu sang Imam Kampung Raja Tuha, Sufian yang dengan telantennya mengantarkan bantuan secara door to door (dari pintu ke pintu—red).
Kondisi Kampung tersebut tergolong teedampak parah, dimana pasalnya Dusun Bahagia tersebut langsung bersisian langsung dengan krueng atau sungai. Dan memang mayoritas warga setempat mata pencahariannya adalah nelayan.
“Terimakasih atas bantuan alquran, sajadah serta mukenanya, semoga semua bantuan ini mendapat pahala dari Allah,” ucap Marlina salah seorang warga setempat sembari mengusap bagian kelopak matanya.
Menurut Marlina yang memiliki dua anak yakni Muhammad Firdaus (3) dan Nur Akma (7) pada saat banjir bandang terjadi ia bersama kedua anaknya harus berada diatap rumah nya karena air begitu tinggi serta deras. Sedangkan sang suami menaiki sampan stanby di sekitaran rumahnya.
“Malam itu listrik padam dan kondisi air cukup tinggi, kami bertahan diatas teras rumah atau atap rumah sembari menunggu air surut, yang kami takutkan malam itu rumah kami roboh karena derasnya air kian dahsyat, namun Allah masih memberikan kami keselamatan,” ungkap Marlina dengan lirihnya.
Usai mendistribusikan bantuan di Kampung Raja Tuha, rombongan pendamping desa rehat sejenak menikmati hangatnya kopi di salah satu sudut kota kecamatan sembari menyusun strategi untuk penyaluran bantuan selanjutnya.
— Cerita Miris Sang PLD Karang Baru —
Tim aksi solidaritas TPP Kota Langsa yang diperkuat oleh para punggawanya yakni tim strategi Cut Mutia, Irwan Pratama, Muhammad Rizal (Bob) dan tim Medsos Rapian kembali berjalan menyusuri jalan hitam dan berdebu menuju Kampung Paya Kulbi, dan Kampung Suka Jadi Paya Bujuk, Kecamatan Karang Baru, dengan aksi berbagi alquran sebagai lentera bagi korban terdampak banjir.
Sesampainya di lokasi salah seorang Pendamping Lokal Desa (PLD) Andi Syahputra, tim sangat terkejut sembari menghela napas panjang melihat kondisi rumahnya yang porak-poranda diterjang banjir bandang kala itu.
Rumah semi permanen itu sangat miris kondisinya saat ini, bangunan tua berdindingkan papan itu kian rapuh, terlihat onggokan pakaian masih berlumpur, mesin cuci, televisi (baru 9 bulan beli baru–red) lemari es dan barang seperti piring serta perabotan rumah tangga lainnya berhamburan di halaman rumahnya bak kena tsunami jilid II terlihat acak-acakan.
Bahkan suasana bertabah miris ketika Yogi Suarman yang juga Pendamping Desa (PD) mengambil sehelai baju putih dalam kondisi berlumpur, bukan kepalang rupanya baju itu adalah baju seragam kebesaran Kemendes yang acap kali menjadi baju setiap dia nya bertugas selama ini.
“Inilah kondisi baju pendamping saya yang sudah tak terlihat lagi bentuk dan wujudnya, jangankan baju barang-barang lain juga tak bisa digunakan lagi,” ungkap Andi dengan nada lirihnya.
Muhammad Rizal dan Yogi Suarman saat memperlihatkan baju seragam Kemendes PDT milik Andi yang berlumur kan lumpur, Selasa, 6 Januari 2026. Foto/Rapian.
Dimana kata Andi, ia bersama keluarga kecilnya harus mengungsi di sebuah masjid pada saat terjadinya bencana banjir bersama warga lainnya karena ketinggian air pada saat ini hingga menyentuh plafon rumahnya bak lautan terbentang luas.
Kiranya cerita miris ini menjadi perhatian bagi Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto, disini ada ‘pejuang desa’ mu yang masih merintih dengan balutan lumpur di Bumi Muda Sedia yang masih berduka.
—Donasi Kecamatan Rantau Terobos Banjir Bercampur Lumpur —
Kemudian tim pun terus melanjutkan donasi ke arah Kecamatan Rantau, namun bukan tanpa aral melintang, suasana jalan yang digenangi banjir susulan dan bercampur lumpur harus dilalui demi misi kemanusiaan tersebut.
Tepatnya di Kampung Bukit Tempurung jalanan banjir disertai lumpur seperti adonan kue bolu kukus yang gagal masak menjadi pemandangan bagi tim TPP Kota Langsa untuk mendistribusikan bantuan, kenapa harus tuntas karena ini adalah amanah dari penyintas untuk penyintas yang musti tuntas.
Sepanjang jalanan itu terlihat rumah yang roboh, mobil yang berlumpur, bahkan deretan tenda orenge milik BNPB menjadi pemandangan disepanjang ruas jalan yang menunjukan bukti Aceh Tamiang sedang tidak baik-baik saja dan Allah memperlihatkan kepada hambanya bahwa bencana datang karena ulah tangan-tangan jahil.
Dengan sasaran terakhir dari Kampung Alur Cucur, Alur Manis, Kp. Lalang semua bantuan kita salurkan ke tenda-tenda pengungsian yang masih menetap di antara kuburan warga Tionghoa (kuburan cina—red) tersebut.
Meskipun dalam suasana yang antah berantah, ketika tim membagikan makanan ringan kepada anak-anak penyitas terlihat raum wajah yang ceriah sembari sumringah ketika dapatkan jajanan tersebut.
“Jajanan ini memang murah harga, namun sangat berarti bagi anak-anak korban banjir disini,” cetus Cut Mutia dengan menghela napas panjangnya.
Kondisi Aceh Tamiang memasuki hari 39 pasca banjir kian berdenyut untuk bangkit dan kita do’akan segera pulih.
Kembali Heri sebagai sang motor penggerak aksi solidaritas ini berujar alhamdulillah semua bantuan telah tuntas kita bagikan semoga menjadi berkah.
Adapun bantuan tersebut diantaranya :
– Al Qur’an terjemahan warna + tajwid ukuran A4 sebanyak : 12 pcs
– Al Qur’an terjemahan warna + tajwid ukuran A5 sebanyak : 17 pcs
– Mukena sebanyak : 9 Set
– Sajadah sebanyak : 13 pcs
– Sarung sebanyak : 6 pcs
– Kaos : 1 pcs
– Surat Yasin sebanyak 24 pcs
– Donasi dari TPP Kota Langsa Rp. 961.000
– Pakaian Layak Pakai sebanyak 1 Dus.
-Jajanan makanan ringan 120 bungkus. 
Telah mendistribusikan secara langsung donasi yang terkumpul ke beberapa warga yang berdampak parah, di wilayah Kabupaten Aceh Tamiang, Desa Raja Tuha, Kec. Manyak Payed, Paya Kulbi, Sukajadi Paya Bujok, Kec. Karang Baru, Desa Bukit Tempurung, Alur Cucur, Alur Manis, Kp. Lalang, Kec. Rantau.
Ia juga tak luput mengucapkan terima kasih kepada seluruh TPP Kota Langsa, TPP Aceh Tamiang, para pendonasi serta para pihak yang telah memberikan bantuan, support, doa dan cucuran keringat atas aksi solidaritas peduli banjir bandang dan longsor teruntuk Aceh Tamiang yang kini harus bangkit dan pulih dari lukanya.
“Memberi bukan tentang seberapa banyak, tapi seberapa besar cinta dan ketulusan yang kita sertakan di dalamnya, hari ini telah usai misi kemanusiaan kita semoga Allah memberikan lentera baru bagi warga Aceh Tamiang dengan mushaf yang kita bagikan tadi,” tukas Heri diaminkan pendamping lainnya. [ian]






