MediaKontras.id | Implementasi nilai-nilai Syari’at Islam tidak hanya berbicara mengenai penegakan hukum atau regulasi, tetapi juga mencakup pembinaan akhlak, pendidikan moral, penguatan keluarga, tata kelola pemerintahan yang berintegritas.
Wali Kota Langsa Jeffry Sentana S Putra, SE, diwakili Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Ali Musafah, SE, saat membuka rapat koordinasi (Rakor) Implementasi Nilai-nilai Syari’at Islam dalam rangka pengoptimalan penyelenggaraan Keistimewaan Aceh, di Aula Setdakot Langsa, Jumat 21 November 2025.
Katanya, Aceh memiliki kekhususan dan keistimewaan yang diberikan oleh negara, salah satunya adalah kewenangan dalam penyelenggaraan Syariat Islam.
“Keistimewaan ini bukan hanya sebuah kehormatan, tetapi juga amanah besar yang wajib kita jalankan dengan penuh tanggung jawab dan kebijaksanaan.” katanya.
Adapun tujuan dari semua ini tidak lain untuk terciptanya kehidupan sosial yang berlandaskan nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin,”.
Dalam konteks penerapan Syari’at Islam harus selaras dengan visi pembangunan daerah yang menempatkan masyarakat sebagai pusat kemajuan.
“Oleh karena itu, koordinasi seperti yang kita laksanakan hari ini menjadi sangat penting untuk menyatukan langkah, memperkuat sinergi, serta menyamakan persepsi antar instansi terkait,” paparnya.
Smentara itu, Ketua Majelis Tuha Peut Wali Nanggroe Abati Azhari dalam rapat koordinasi itu memaparkan adapun pokok pembahasan terkait Dinul Islam di Kota Langsa yakni :
Pembahasan terkait penyelenggaraan Keistimewaan Aceh yang dilaksanakan melalui lembaga Wali Nanggroe dan pemabahasan terkait pola prilaku masyarakat yang bertentangan dengan nilai-nilai Syari’at Islam.
Lantas, pembahasan terkait dengan Geuchik dan Mukim yang tidak sesuai dengan Qanun Aceh No 8 Tahun 2014 tentang pokok-pokok syari’at islam serta pembahasan terkait dengan penggunaan lahan oleh pengusaha yang berdampak negative pada kesejahteraan masyarakat.
Untuk itu juga pembahasan terkait Pageu Nanggroe serta standarisasi adat dan kehidupan kemasyarakatan harus sesuia dengan nilai-nilai Syari’at Islam. Kendala instansi vertikal terkait dalam penyelesaian persoalan kemasyarakatan yang sesuai dengan nilai-nilai syari’at islam dan hal-hal lain yang diperlukan untuk dibahas.
Rakor itu juga melibatkan perwakilan Forkopimda, pimpinan OPD, Majelis Fatwa, Majelis Tuha Lapan, Tuha Peut Wali Nanggroe dan tamu undangan lainnya. [ian]






