Banda Aceh – Unit punk rock asal Banda Aceh, Bad Party, resmi merilis mini album (EP) perdana bertajuk Ambang Batas yang akan tersedia di berbagai platform streaming digital mulai 27 April 2026.
EP ini menjadi debut rekaman mereka setelah melalui proses produksi di Manufacture Studio. Karya tersebut merefleksikan kegelisahan band terhadap kondisi generasi muda, dikemas dalam musik berenergi tinggi dengan tempo cepat dan permainan chord yang lugas.
Bad Party sendiri merupakan grup yang terbentuk pada 2025 di Banda Aceh. Formasi band ini terdiri dari Arsa (drum), Rafsanjani (vokal/gitar), dan Giussepi Latteri (bass). Sejak awal, mereka mengusung pendekatan eksploratif tanpa meninggalkan akar musik punk rock bergaya old school era 1990-an.
Secara musikal, Bad Party dikenal melalui penampilan panggung yang ekspresif serta lirik yang langsung dan kritis. Bagi mereka, punk bukan sekadar genre musik, tetapi juga medium untuk menyampaikan pesan yang kerap terabaikan.
EP Ambang Batas memuat enam lagu yang digarap secara kolektif. Salah satu trek yang menjadi sorotan adalah “Culture (Fuck U)”, lagu berdurasi pendek dengan karakter antimik yang kuat. Lagu ini mengangkat isu penolakan terhadap budaya perundungan (bullying), dengan aransemen drum konstan dan vokal yang intens.
“Kami tidak terlalu memikirkan tren. EP ini lahir dari kebutuhan kami untuk memainkan musik yang jujur dan penuh energi. Kami ingin pendengar merasakan atmosfer yang sama seperti saat kami berada di ruang latihan,” ujar Rafsanjani.
Berikut daftar lagu dalam EP Ambang Batas:
Culture (Fuck U)
Berat
Ambang Batas
The Ntemrevog
Kawanku
If You Happy (cover)
Selain merilis karya musik, Bad Party juga menyiapkan sejumlah merchandise seperti kaset DVD, kaos, dan poster sebagai bagian dari distribusi independen mereka.
EP Ambang Batas dijadwalkan dapat diakses melalui Spotify, Apple Music, dan Bandcamp mulai akhir April 2026.
Sebagai kolektif musik independen, Bad Party menegaskan komitmennya terhadap kemandirian dan kekuatan komunitas. Melalui karya-karyanya, mereka berupaya menyuarakan perlawanan terhadap batasan kreativitas serta standar industri yang dinilai monoton.






