Mediakontras.Id | Aceh Timur – Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) Aceh Timur menggelar kegiatan buka puasa bersama pada Jumat, 13 Maret 2026 di Peureulak Barat. Kegiatan tersebut diisi dengan tausiah Ramadan yang disampaikan oleh Ketua Majelis Pakar KAHMI Aceh Timur, Dr. Muhammad Dayyan, M.Ec.
Dalam tausiahnya, Dayyan menyampaikan perumpamaan menarik tentang makna puasa melalui analogi dunia binatang. Menurutnya, puasa tidak semata-mata tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan tentang hasil akhir atau perubahan yang dihasilkan dari proses ibadah tersebut.
Ia mengibaratkan puasa seperti yang terjadi pada ular. Seekor ular berpuasa ketika hendak berganti kulit. Namun setelah proses tersebut selesai, pada hakikatnya tidak terjadi perubahan yang berarti. Sifatnya tetap sama, bentuknya tetap sama, dan ia tetaplah seekor ular yang terkadang membahayakan.
Berbeda dengan ulat. Menurut Dayyan, ulat juga “berpuasa” ketika berada dalam kepompong. Namun proses tersebut menghasilkan transformasi yang sangat besar. Setelah masa itu berakhir, ulat keluar menjadi kupu-kupu yang indah, mampu terbang tinggi, dan memberi manfaat bagi ekosistem, termasuk membantu proses penyerbukan tanaman.
Melalui perumpamaan tersebut, Dayyan mengajak jamaah untuk merenungkan kualitas puasa yang dijalani. Menurutnya, manusia harus memilih apakah puasanya hanya sekadar rutinitas tahunan seperti ular yang sekadar “berganti kulit”, atau menjadi proses metamorfosis seperti ulat yang melahirkan pribadi baru yang lebih indah dan bermanfaat.
Terkait tujuan akhir puasa, yaitu menjadi pribadi yang bertakwa (muttaqin), Dayyan merujuk pada Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 133–135. Ia menegaskan bahwa orang-orang yang mengalami transformasi spiritual memiliki beberapa ciri utama.
Di antaranya adalah memiliki kepedulian sosial melalui kedermawanan, empati yang tinggi terhadap sesama, kecerdasan emosional dalam mengendalikan diri, serta kemampuan untuk memaafkan orang lain.
Menutup tausiahnya, Dayyan mengajak jamaah untuk melakukan refleksi diri terhadap ibadah puasa yang sedang dijalani.
“Pertanyaannya, apakah kita sudah bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik, atau hanya sekadar melewati rasa lapar tanpa makna?” pungkasnya.






