Oleh: Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh.
Bayangkan sosok pemimpin kota yang bersuara lantang mendukung transportasi gratis, toko kelontong milik publik, upah minimum $30 per jam, dan pajak tinggi untuk korporasi. Lalu bayangkan dia tumbuh besar di apartemen mewah dengan dapur gourmet dan langit-langit 12 kaki di West Chelsea, Manhattan.
Kedengarannya seperti premis satir dalam novel politik, bukan? Namun kenyataan kadang jauh lebih teatrikal dari fiksi. Nama tokoh itu adalah Zohran Kwame Mamdani, dan ia sedang mengubah definisi tentang revolusi perkotaan dari dalam penthouse keluarga intelektual global.
Zohran adalah anak dari dua tokoh budaya dunia: Mahmood Mamdani, antropolog ternama yang membongkar warisan kolonial dan identitas politik dalam buku seperti When Victims Become Killers (2020), dan Mira Nair, sutradara film global asal India yang memikat penonton dari Cannes hingga Netflix. Kehidupan Zohran diawali di Kampala, Uganda, lalu berpindah ke Cape Town, dan akhirnya menetap di New York City sejak usia tujuh tahun. Ia menjadi warga negara Amerika pada tahun 2018—sebuah fakta yang belakangan diungkit oleh kaum konservatif sebagai alasan untuk menuntut deportasinya.
Di masa kecilnya, ia menyaksikan perdebatan postkolonial dan skenario film terjadi dalam satu ruang makan. Pendidikan afiliasi diasporik ini membentuk wawasannya—campuran antara teori identitas, rasa keadilan global, dan kemampuan retoris yang jarang ditemukan di panggung politik lokal. Ayahnya, Mahmood, menulis bahwa “every political identity can be simultaneously victim and oppressor” (Mamdani, 2020:7), dan Zohran tampaknya menerapkan pandangan ini ke dalam kebijakan: menolak dikotomi biner, menantang imperialisme, dan membela hak rakyat—baik di Queens, Gaza, atau Uganda.
Tapi warisan keluarga juga membawa keraguan. Ibunya, Mira Nair, pemilik apartemen West Chelsea yang dibeli seharga $1,375 juta dan dijual dengan keuntungan $75 ribu, adalah simbol diaspora yang sukses dan mapan. Ia mendidik Zohran dalam lingkungan seni, kemewahan, dan keintiman lintas budaya. Maka tak heran jika banyak pihak menyebut Zohran sebagai “nepo baby”—anak emas yang mengobarkan semangat sosialisme dari balik tirai linen mahal.
Namun narasi itu mulai goyah ketika publik melihat Zohran meninggalkan West Chelsea dan memilih tinggal di apartemen satu kamar sewa di Queens bersama istrinya, Rama Duwaji. Rama adalah ilustrator Suriah-Amerika yang dikenal dengan karya-karyanya mendukung Palestina. Pasangan ini menjadi simbol dari apa yang disebut kanan Amerika sebagai “radikal urban progresif”—duet multinasional yang menggabungkan seni dan revolusi.
Kampanye wali kotanya pun bukan eufemisme. Ia menyerukan pajak atas kekayaan, penghapusan biaya bus, pengelolaan makanan oleh pemerintah kota, dan penolakan terhadap slogan moderat. Ia mendukung “globalize the intifada” dan menolak untuk menyensor pendapatnya terkait kejahatan perang di Palestina.
Platformnya sangat tidak kompromistis, sehingga mantan Presiden Trump menyebutnya sebagai “communist lunatic” dan menyerukan agar kewarganegaraannya dicabut.
Di tengah kebisingan itu, Zohran tetap teguh. Ia mengalahkan Andrew Cuomo, mantan gubernur New York yang sarat dengan jaringan dan modal politik, dalam pemilihan pendahuluan wali kota Partai Demokrat tahun 2025. Menurut laporan NYC mayoral primary: Here’s what’s next for Zohran Mamdani (2025), para petinggi Demokrat kini menghadapi kenyataan bahwa warga kota menginginkan perubahan yang jauh lebih radikal daripada yang pernah mereka bayangkan.
Bandingkan ia dengan tokoh progresif lain seperti Alexandria Ocasio-Cortez (AOC) atau Bernie Sanders. AOC membawa energi milenial ke Kongres dan merumuskan kebijakan dalam kerangka Green New Deal serta reformasi perumahan. Sanders mengusung sosialisme demokratik yang lebih moderat dan telah berkarier selama puluhan tahun di panggung nasional. Zohran? Ia baru mulai, tapi pukulan retorisnya lebih tajam, dan tuntutan kebijakannya lebih tidak kenal kompromi.
Dibandingkan dengan Brandon Johnson, wali kota progresif Chicago, Zohran lebih konfrontatif daripada kolaboratif. Ia bukan pembangun konsensus—ia penantang sistem. Sementara Johnson fokus pada investasi sosial untuk mengurangi kriminalitas, Zohran menawarkan transformasi struktural: pengalihan kepemilikan dari swasta ke publik, penghapusan hambatan kapitalistik, dan pembangkangan terhadap kebijakan federal terkait pendanaan kepolisian.
Secara antropologis, dia adalah produk dari dua wacana yang sangat kuat: satu yang membedah asal-usul kekerasan negara, dan satu lagi yang memfilmkan cinta dan keretakan kelas sosial. Keduanya menyatu dalam gaya pidato Zohran yang teatrikal dan tajam, di mana ia bisa mengutip tokoh dari Fanon hingga Kendrick Lamar sambil membahas zoning regulation di Brooklyn.
Maka, lahirlah sebuah pertanyaan eksistensial: apakah revolusi bisa dimulai dari penthouse di Chelsea dan kemudian turun ke jalanan Bronx? Jika Zohran memenangkan jabatan wali kota, jawabannya mungkin adalah ya—revolusi bisa lahir di tempat mana pun, selama narasi dan hasratnya otentik.
Ia bukan sosok yang berpura-pura. Ia tak malu dengan warisan intelektual dan kemewahan keluarganya, namun ia juga tak tunduk padanya. Ia mengubah privilese menjadi alat untuk menghancurkan dominasi ekonomi dan politik yang menurutnya merusak kota. Ia mungkin lahir dalam kehangatan kain sutra, tapi ia memilih berdiri di atas aspal keras pemilih kelas pekerja.
Dan jika suatu hari sejarah menilai Zohran terlalu ekstrem, terlalu teatrikal, atau terlalu berani, maka semoga sejarah juga ingat bahwa banyak perubahan besar dimulai dari mereka yang menolak menjadi versi jinak dari orang tuanya. Karena terkadang, revolusi memang butuh dapur gourmet untuk merancang cita rasa yang akan mengguncang selera kekuasaan.