MediaKontras.id | Diduga kuat ada aktivitas pembukaan lahan sekitar seribuan hektar lahan hutan di wilayah Jamur Labu, Kecamatan Birem Bayeun, Kabupaten Aceh Timur yang menyebabkan terjadinya banjir bandang yang menerjang Kota Langsa pada medio November 2025 lalu.
Dimana bencana banjir bandang dan tanah longsor yang merendam Kota Langsa pada tahun lalu itu juga disertai curah hujan tinggi salama hampir sepekan, dibarengi hutan yang ada dihulu mengalami kerusakan yang sangat signifikan maka banjir tak terelakan.
Pasalnya, pohon-pohon besar berusia hingga ratusan tahun di hutan itu yang sebelumnya berfungsi sebagai penyangga air hujan telah musnah atau ditebang oleh pihak-pihak tertentu tanpa adanya penanaman kembali.
Sehingga air hujan yang turun dengan waktu tertentu atau melebihi satu hari dan curah hujannya tinggi akan mengalir ke DAS Krueng Langsa menuju muara akhir laut.
Kondisi ini otomatis akan terus mengancam keberadaan wilayah penduduk di wilayah Kota Langsa yang jika debit air besar di Krueng Langsa akan menyebabkan luapan banjir di daerah ini.
Berdasarkan informasi yang didapat oleh MediaKontras.id, Kamis, 15 Januari 2026, menjelaskan bahwa saat ini ada sekitar hampir 1.000 hektar hutan di luar kawasan penduduk Desa Jamur Labu itu sudah gundul alias tidak ada tanaman pohon lagi.
Bahkan lebih mirisnya, di sana akan ditanam pohon jenis kelapa sawit oleh pihak perusahaan luar daerah tersebut, dan saat ini area itu telah dilakukan pembersihan sebagai persiapan penanamannya.
Perubahan fungsi hutan ke tanaman pohon kelapa sawit tersebut dikhawatirkan akan menimbulkan bencana ke depannya dan sejauh ini tidak ada yang menghalangi deforestasi hutan tersebut.
Diketahui bersama bahwa tanaman pohon kelapa sawit tidak akan mampu menyerap air hujan dengan jumlah besar seperti tanaman pohon-pohon di hutan umumnya.
Perubahan fungsi hutan ini jika dibiarkan ke depan otomatis akan menimbulkan bencana-bencana banjir besar tahun-tahun berikutnya yang terus akan berulang.
Dampaknya selain akan dirasakan oleh penduduk sekitar juga wilayah Kota Langsa, karena air dari daerah tersebut bermuara satu ke DAS Krueng Langsa.
Seperti diketahui, aktivitas perusakan hutan (hutan gundul—red) atau perubahannya fungsi hutan dari pohon keras ke tanaman kelapa sawit di kawasan hutan, menjadi faktor utama terjadinya bencana banjir bandang dan longsor akhir tahun 2025 di Provinsi Aceh.
Perubahan iklim yang tidak bisa terelekan akibat rusaknya hutan di kawasan Bukit Barisan di Pulau Sumatera ini, memicu bencana dahsyat yang merusak sendi ekonomi masyarakat yang berada di hulu dan hilir.
Bencana hidrometeorologi dan banjir bandang yang diawali terjadinya curah hujan tinggi hampir sepekan memasuki akhir bulan November 2025 lalu itu, kini menyimpan traumatik masyarakat terutama korban banjir.
Bahkan hampir semua kabupaten/kota di Aceh yang terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor belum pulih dan kondisinya masih memperihatinkan, seperti Aceh Tamiang, Aceh Timur, dan daerah lainnya.
Seperti Kota Langsa yang beberapa tahun sebelumnya mulai mampu mengatasi banjir luapan Krueng Langsa dengan dilakukannya pelurusan DAS Krueng Langsa tersebut.
Namun pada akhir tahun 2025 lalu juga mengalami dampak parah bencana banjir yang diakibatkan meluapnya Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Langsa.
Wilayah Kota Langsa waktu itu hampir 90 persen terendam air yang berlumpur luapan Krueng Langsa tersebut. DAS Krueng Langsa selama ini hampir sepenuhnya dialiri air dari kawasan Kabupaten Aceh Timur dari daerah Keumuning Hulu dan Jamur Labu, sekitarannya di wilayah Kecamatan Birem Bayeun, Aceh Timur.
Kalau tidak dilakukan pencegahan dini maka praktis maka Langsa akan terus berurusan dengan banjir, karena hulu nya kini kian gundul dan beralih fungsi.[ian]






