MediaKontras.id | Sekolah Tinggi Agama Islam Aceh Tamiang (STAI-AT) wisuda sebanyak 334 mahasiswa untuk Sarjana Strata Satu (S1) angkatan XV tahun 2026, di Vitra Tirta Raya Convention Hall Langsa, Sabtu, 11 April 2026.
Prosesi wisuda berlangsung khidmat dalam sidang senat terbuka dan diikuti oleh lulusan program profesi dengan mengusung tema ‘Penguatan daya saing lulusan berbasis kompetensi dan karakter islam menuju Indonesia maju’.
Adapun jumlah 334 mahasiswa yang diwisuda meliputi Prodi Ekonomi Syariah ada 91, Prodi Manajemen Zakat dan Wakaf ada 13 mahasiswa, Prodi Pendidikan Agama Islam ada 53 mahasiswa.
Lantas untuk Prodi Hukum Pidana Islam ada 84 mahasiswa, Prodi Hukum Ekonomi Syariah 34 mahasiswa, Prodi Komunikasi Penyiaran Islam 15 dan terakhir untuk Prodi Psikologi ada 4 mahasiswa.
Ketua STAI Aceh Tamiang, Dr. Rizki Maulana, S.Sos, SH, MSP, MH, mengatakan saat ini tantangan zaman dan fondasi karakter Islami. Realitanya jelas di depan mata. Jika dulu sebuah proyek atau pekerjaan melibatkan ribuan tenaga manusia, kini cukup dikerjakan oleh puluhan bahkan ratusan orang saja. Ini adalah kondisi yang sangat realistis.
Lantas, bagaimana kita menjawab tantangan ini? Kompetensi, skill, dan keterampilan yang mumpuni sudah menjadi sebuah keharusan mutlak yang harus dimiliki. Belum lagi kita bicara tentang Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan, serta teknologi yang berkembang begitu pesat. Kita sering kali tidak mampu mengimbangi, bahkan justru terjebak dalam sikap yang hanya konsumtif.
Ini adalah realitas yang harus kita jawab. Namun, sebagai institusi keagamaan Islam, kita memiliki posisi yang kuat. Semua lembaga keilmuan ini harus berdiri kokoh, tidak tergoyahkan, dan tidak terganggu oleh arus yang hanya mengutamakan teknologi semata.
Mengapa? Karena sepintar apa pun teknologi, sehebat apa pun AI, ia tidak akan pernah memiliki karakter.
Maka, hari ini tawaran Islam sangatlah jelas. Kita harus menawarkan Karakter Islami sebagai fondasi utama dalam menjawab tantangan peradaban ini. Bagaimana kita meraih karakter yang baik dan benar? Jawabannya satu: kita mesti menjadikan agama sebagai dasar dan fondasi pembentukan karakter tersebut.
“Kita tidak perlu melihat fenomena sesaat—baik dalam hukum, ekonomi, maupun sosial. Ketika seseorang keluar dari jalur karakter yang benar, maka integritasnya akan dipertanyakan. Karakter inilah yang menjadi komitmen kita untuk mampu menjawab segala perkembangan zaman,” ungkap Dr Rizki.
Sehingga, kita tetap berada pada koridor yang tepat, berada pada alurnya, sebagai bagian dari institusi dan lembaga, kita harus tetap berada pada jalurnya. Tidak perlu keluar koridor, tidak perlu out of track, atau melanggar aturan main.
Inilah modal utama kita: tetap berintegritas dan berkarakter Islam.
Oleh karena itu, tawaran pendidikan Islam hari ini haruslah menghasilkan insan yang Intelektualitas, Kompetitif, dan Berkarakter Islamiah.
“Hal inilah yang harus kami sampaikan. Sehingga, lulusan dan putra-putri bangsa yang berbasis agama Islam, dengan modal intelektualitas dan daya saing yang tinggi, juga memiliki karakter yang kuat. Sehingga integritasnya terjamin, dan menjadi komitmen diri dalam berinteraksi di masyarakat,” terangnya.
Senada Wakil Ketua Yayasan Islam Aceh, Prof. Dr. Drs. Muzakkir Samidan, SH.MH.M.PD dengan mengusung tema ‘Hukum sebagai Fenomena Sosial’ menjelaskan kehadiran bapak dan ibu hari ini mengikuti acara wisuda mudah-mudahan memberikan respon positif.
“Mengucapkan selamat dan berbahagia bagi keluarga dan para wisudawan hari ini menjadi sarjana butuh perjuangan dan tidak semua orang mampu menempuh pendidikan, dimana kesempatan itu adalah anda semua,” ucap Prof Muzakkir.
Lebih lanjut, manusia menjadi terhormat bila ia memiliki ilmu yang bermanfaat bagi banyak orang, oleh karenany manusia yang menguasai dunia yang memiliki ilmu.
“Manusia yang memiliki ilmu juga dimuliakan oleh Allah dan tentunya anda sekalian yang telah di wisuda dapat sukses dunia dan akhirat. Keberhasilan ini tidak terlepas peran dan doa kedua orang tua, jangan perlu lupakan pengorbanan mereka,” pinta Prof Muzakkir.
Sambungnya, kasih sayang orang tua tak pernah lekang karena waktu dan doa untuk anaknya tak pernah selesai hingga akhir hayat, bahkan saat ini ada yang sudah meninggal tak sempat melihat anaknya di wisuda.
Oleh karenannya, mari kita gunakan ilmu untuk mengabdi kepada orang tua yang sudah melahirkan dan membesarkan. “Allah datangkan ilmu kepada kita dan doa orang tua kita serta marilah kita sekalian gunakan ilmu dengan sebaik-baik yang sejatinya orang tua sebagai permata dalam hidup ini,” akhir pesan Prof Muzakkir di hadapan para wisudawan.
Sementara Sekretaris Kopertais Wilayah V Aceh, Dr. Bustami Abubakar, M.Hum, mengucapkan selamat dan sukses kepada para wisuda STAI-AT yang berbahagia.
Acara wisuda ini juga dihadiri para tamu undangan serta para orang tua, keluarga serta para wisudawan dalam balutan kebahagiaan. [ian]






