Mediakontas.Id | Langsa – Kasus daycare yang mencuat belakangan ini memicu kekhawatiran luas di tengah masyarakat. Bukan hanya soal keselamatan anak, tetapi juga menyangkut runtuhnya kepercayaan publik terhadap lembaga yang seharusnya menjadi ruang aman.
Pakar komunikasi, Dr. Muslem, M.A, Dosen Ilmu Komunikasi IAIN Langsa menilai bahwa fenomena ini tidak bisa dilihat sebagai insiden tunggal, melainkan sebagai krisis yang lebih dalam.
“Kasus daycare ini sudah masuk ke level krisis kepercayaan. Ketika tempat yang seharusnya aman bagi anak justru dipersoalkan, maka yang terguncang bukan hanya lembaga, tetapi juga rasa aman orang tua secara kolektif,” ujar Dr Muslem saat diwawancarai, Mediakontas.Id Jumat 1 Mei 2026.
Menurutnya, dalam perspektif komunikasi, krisis tersebut terjadi bukan hanya karena peristiwa itu sendiri, tetapi juga karena kegagalan dalam mengelola informasi.
“Banyak kasus menunjukkan informasi awal justru muncul dari luar—orang tua atau media sosial. Ketika pihak daycare lambat merespons atau memilih diam, maka ruang kosong itu langsung diisi oleh spekulasi publik,” jelas Dr Muslem.
Ia menambahkan, kesalahan paling umum yang dilakukan lembaga adalah bersikap defensif dan tidak transparan dalam merespons isu.
“Dalam komunikasi krisis, yang dibutuhkan itu kecepatan, transparansi, dan empati. Tapi yang sering terjadi justru penyangkalan atau upaya menutup informasi. Ini yang memperparah situasi,” katanya.
Namun demikian, Dr. Muslem menegaskan bahwa persoalan ini tidak bisa disederhanakan hanya sebagai kegagalan komunikasi.
“Komunikasi yang buruk sering kali hanya gejala. Akar masalahnya adalah sistem yang lemah—tidak adanya standar operasional yang jelas, lemahnya pengawasan, dan budaya organisasi yang tidak transparan,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa komunikasi sebuah lembaga pada dasarnya mencerminkan kondisi internalnya.
“Kalau sistemnya kuat, komunikasinya akan terbuka dan jelas. Tapi kalau sistemnya bermasalah, komunikasinya cenderung defensif. Jadi ini bukan sekadar soal cara bicara, tapi apa yang terjadi di balik layar,” ujarnya.
Di sisi lain, ia mengakui bahwa media dan media sosial turut mempercepat eskalasi kasus. Namun hal tersebut menurutnya bukan sesuatu yang bisa dihindari.
“Ini realitas digital. Informasi bergerak cepat. Justru lembaga harus lebih siap dan lebih cepat dalam berkomunikasi sebelum narasi dibentuk oleh publik,” katanya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa dampak terbesar dari kasus ini adalah hilangnya kepercayaan publik.
“Daycare itu lembaga berbasis kepercayaan. Sekali kepercayaan hilang, tidak mudah dipulihkan. Klarifikasi saja tidak cukup, harus ada transparansi dan perubahan nyata,” ujarnya.
Sebagai solusi, ia menekankan pentingnya perbaikan pada dua aspek sekaligus, yakni komunikasi dan sistem.
“Komunikasi harus cepat, terbuka, dan empatik. Tapi yang lebih penting adalah perbaikan sistem—standar operasional, pengawasan, dan akuntabilitas. Tanpa itu, komunikasi hanya akan jadi kosmetik,” katanya.
Ia pun menutup dengan penegasan bahwa krisis ini merupakan kombinasi dari dua kegagalan yang saling terkait.
“Ini bukan sekadar kegagalan komunikasi atau sistem. Ini keduanya. Komunikasi yang buruk mempercepat krisis, tetapi sistem yang lemah menciptakan krisis itu sendiri. Kalau tidak diperbaiki bersamaan, kasus seperti ini akan terus berulang,” Demikian pungkasnya.






