Oleh: Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh
Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh.
Serangan Amerika Serikat terhadap Iran dapat dibaca sebagai gejala awal keretakan sebuah imperium global. Analogi antara Amerika Serikat dan Kekaisaran Romawi memang telah lama dibahas oleh para sejarawan, ilmuwan politik, dan pengamat budaya. Banyak kajian akademik menunjukkan bahwa Amerika, sebagai kekuatan hegemonik dunia modern, memiliki sejumlah kemiripan struktural, ideologis, dan geopolitik dengan Imperium Romawi.
Gagasan bahwa Amerika Serikat merupakan “Romawi dalam bentuk kontemporer” telah lama menjadi bahan diskusi dalam kajian sejarah, politik internasional, dan teori imperium. Ketika ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat, banyak pengamat melihat pola-pola lama yang seakan berulang: sebuah kekuatan hegemonik global menghadapi tantangan dari sebuah kekuatan Timur yang memiliki sejarah panjang sebagai rival peradaban Barat. Dalam kerangka ini, Iran dipandang sebagai penerus Persia, sementara Amerika Serikat tampil sebagai Romawi modern. Analogi ini bukan sekadar retorika, tetapi memiliki dasar historis dan konseptual yang kuat dalam literatur akademik.
Hegemoni Global dan Makna “Empire”
Dalam sejarah Romawi, imperium bukan hanya wilayah kekuasaan, tetapi juga kemampuan mengatur dunia melalui hukum, militer, dan budaya. Amerika Serikat, menurut Bushman (2013), sering dipahami dalam kerangka yang sama: sebuah negara yang tidak secara formal menyebut dirinya imperium, tetapi menjalankan fungsi imperial melalui jaringan pangkalan militer, dominasi ekonomi, dan pengaruh budaya global. Romawi menguasai Laut Tengah sebagai “danau Romawi”, sementara Amerika menguasai jalur laut global melalui armada angkatan lautnya. Keduanya membangun tatanan dunia yang bergantung pada stabilitas yang mereka ciptakan—dan kendalikan.
Para peneliti menekankan bahwa baik Romawi maupun Amerika Serikat memproyeksikan kekuasaan mereka jauh melampaui batas teritorial inti. Bushman (2013) menunjukkan bahwa Amerika sering dipahami sebagai “imperium” dalam arti kemampuan mengatur tatanan global melalui kekuatan militer, ekonomi, dan budaya—sebuah pola yang sangat mirip dengan ekspansi Romawi yang mengintegrasikan wilayah luas melalui dominasi politik dan militer.
Pax Romana dan Pax Americana
Konsep Pax Romana merujuk pada stabilitas yang dipaksakan oleh kekuatan militer Romawi. Burton (2011) menunjukkan bahwa Amerika Serikat memainkan peran serupa melalui Pax Americana, yaitu stabilitas global yang bertumpu pada kekuatan militer, diplomasi, dan institusi internasional yang dibentuk atau dipengaruhi oleh Washington. Dalam kedua kasus, perdamaian bukanlah hasil kesetaraan, melainkan hasil dominasi. Romawi menjaga ketertiban melalui legiun; Amerika menjaga ketertiban melalui aliansi militer, intervensi, dan kehadiran global. Ketika Romawi melemah, Pax Romana runtuh. Ketika Amerika menghadapi tantangan geopolitik besar, Pax Americana pun goyah.
Burton (2011) menyoroti paralel antara Pax Romana—stabilitas yang dipaksakan melalui kekuatan militer Romawi—dan Pax Americana, yaitu stabilitas global yang dikaitkan dengan dominasi militer dan diplomasi Amerika. Dalam kedua kasus, perdamaian dicapai bukan melalui kesetaraan, tetapi melalui supremasi satu kekuatan yang mengatur perilaku negara lain.
*Infrastruktur Kekuasaan: Militer, Ekonomi, dan Teknologi*
Romawi membangun jalan, pelabuhan, dan sistem administrasi yang memungkinkan kontrol atas wilayah luas. Amerika Serikat, menurut Bender (2003), membangun jaringan pangkalan militer global, sistem perdagangan internasional, dan infrastruktur teknologi yang menghubungkan dunia dalam orbit pengaruhnya. Jika Romawi menguasai dunia melalui jalan dan legiun, Amerika menguasai dunia melalui internet, dolar, dan kekuatan udara. Keduanya menciptakan sistem yang membuat negara lain bergantung pada stabilitas yang mereka sediakan, sekaligus tunduk pada aturan yang mereka tetapkan.
Romawi membangun jaringan jalan, pelabuhan, dan sistem administrasi yang memungkinkan kontrol atas wilayah luas. Amerika Serikat, menurut Bender (2003), membangun jaringan pangkalan militer global, sistem perdagangan internasional, dan infrastruktur teknologi yang berfungsi sebagai instrumen kekuasaan imperial modern.
Keduanya mengandalkan kekuatan militer yang tak tertandingi, kemampuan logistik global, dan sistem ekonomi yang menarik negara lain masuk ke orbit pengaruhnya.
Ideologi Supremasi dan Misi Peradaban
Murphy (2007) menekankan bahwa Romawi dan Amerika sama-sama membingkai ekspansi mereka sebagai misi peradaban. Romawi mengklaim membawa hukum, ketertiban, dan budaya Latin; Amerika mengklaim membawa demokrasi, kebebasan, dan modernitas. Ideologi ini berfungsi sebagai legitimasi moral bagi intervensi militer dan politik. Dalam kedua kasus, imperium tidak hanya dibangun dengan kekuatan, tetapi juga dengan narasi tentang “tugas moral” untuk membentuk dunia. Narasi ini sering digunakan untuk membenarkan tindakan yang secara geopolitik bersifat imperial.
Murphy (2007) menunjukkan bahwa Amerika, seperti Romawi, sering membingkai dirinya sebagai pembawa “peradaban”, “demokrasi”, atau “tatanan dunia”—mirip dengan Romawi yang mengklaim membawa hukum, ketertiban, dan budaya Latin ke wilayah taklukan. Ideologi misi peradaban ini sering digunakan untuk membenarkan intervensi militer atau politik.
Persia dan Iran: Rival Abadi dari Timur
Dalam sejarah Romawi, Persia adalah satu-satunya kekuatan yang mampu menandingi Romawi secara militer, politik, dan budaya. Konflik Romawi–Persia berlangsung selama berabad-abad dan menjadi salah satu rivalitas geopolitik paling panjang dalam sejarah manusia. Dalam pandangan Anda, Iran hari ini memainkan peran serupa: sebuah kekuatan Timur yang menolak dominasi Amerika dan menantang struktur geopolitik yang dibangun Washington. Seperti Persia dahulu, Iran bukan sekadar negara, tetapi simbol perlawanan terhadap hegemoni Barat. Ketegangan antara Amerika dan Iran, dalam kerangka ini, bukan sekadar konflik kontemporer, tetapi gema dari pertarungan peradaban yang panjang.
Dalam kerangka historis, Persia adalah salah satu kekuatan besar yang berulang kali menantang Romawi. Dalam pandangan Anda, Iran hari ini memainkan peran serupa: sebuah kekuatan regional yang menolak dominasi Amerika dan menantang struktur geopolitik yang dibangun Washington.
Secara historis Persia adalah rival strategis Romawi di Timur. Iran modern adalah rival geopolitik Amerika di Timur Tengah. Analogi ini sering digunakan dalam kajian geopolitik untuk menunjukkan pola berulang dalam sejarah kekaisaran.
Tanda-Tanda Keretakan Imperium
Murphy (2007) mengingatkan bahwa Romawi runtuh bukan hanya karena serangan eksternal, tetapi karena kombinasi faktor internal: overextension militer, beban ekonomi, konflik politik, dan melemahnya legitimasi moral. Banyak pengamat melihat pola serupa dalam dinamika Amerika Serikat saat ini. Banyak pengamat menggunakan kerangka ini untuk menganalisis tekanan yang dihadapi Amerika Serikat dalam sistem global saat ini.
Ketika sebuah imperium terlalu luas, terlalu mahal, dan terlalu sering terlibat dalam konflik, ia mulai retak dari dalam. Ketegangan dengan Iran dapat dibaca sebagai salah satu titik tekanan yang memperlihatkan batas-batas kekuatan Amerika. Dalam perspektif ini, konflik tersebut bukan hanya peristiwa geopolitik, tetapi juga cermin dari dinamika imperial yang sedang mengalami tekanan struktural.
Daftar Pustaka
Bender, Peter. “America: The New Roman Empire?.” Orbis 47.1 (2003): 145–159.
Burton, Paul. “Pax Romana/Pax Americana: Perceptions of Rome in American Political Culture, 2000–2010.” International Journal of the Classical Tradition 18.1 (2011): 66-104.
Bushman, Adrian Michael. “Rome, the United States of America, and the Meaning of Empire.” Utah Historical Review_ 3 (2013): 105.
Murphy, Cullen. Are We Rome?: The Fall of an Empire and the Fate of America._ Houghton Mifflin Harcourt, 2007.






