Darurat Kekerasan di Daycare, Akademisi IAIN Langsa Tekankan Urgensi Pola Asuh Berbasis Amanah dan Fitrah

Ketua Program Studi Psikologi Islam IAIN Langsa, Dedy Surya, M.Psi, Kamis, 30 April 2026. Foto/ist.

Darurat Kekerasan di Daycare, Akademisi IAIN Langsa Tekankan Urgensi Pola Asuh Berbasis Amanah dan Fitrah

Ketua Program Studi Psikologi Islam IAIN Langsa, Dedy Surya, M.Psi, Kamis, 30 April 2026. Foto/ist.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp MediaKontras.ID

MediaKontras.id | Maraknya kasus kekerasan terhadap anak di tempat penitipan anak (daycare) akhir-akhir ini memicu keprihatinan mendalam dari berbagai kalangan, termasuk para akademisi.

Menanggapi fenomena tersebut, akademisi, sekaligus Ketua Program Studi Psikologi Islam IAIN Langsa, Dedy Surya, M.Psi. kepada MediaKontras.id, Kamis, 30 April 2026 menyatakan bahwa krisis ini bukan sekadar kegagalan individu pengasuh, melainkan cerminan dari rapuhnya sistem pengawasan dan hilangnya landasan spiritual dalam pengelolaan lembaga pengasuhan anak.

Dedy Surya menilai bahwa dalam perspektif Psikologi Islam, setiap anak lahir membawa fitrah yang suci. Kekerasan yang terjadi di lembaga pendidikan atau pengasuhan merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanah yang diberikan Tuhan melalui orang tua kepada lembaga tersebut.

“Anak adalah amanah yang memiliki fitrah kesucian. Ketika terjadi kekerasan di daycare, itu bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga pencederaan terhadap fitrah anak yang seharusnya tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang,” ujar Dedy.

Lebih lanjut Dedy Surya juga menyoroti problem ini muncul akibat permasalahan sistemik karena rendahnya kompetensi, minimnya pengawasan, dan aturan yang longgar menjadi pintu masuk terjadinya kekerasan. Ia menekankan bahwa pengelola daycare wajib memiliki sistem perlindungan yang berlapis.

“Pengawasan harus bersifat lahir dan batin. Secara lahiriah, penggunaan teknologi seperti CCTV dan evaluasi berkala adalah kewajiban. Namun, secara internal, rekrutmen pengasuh harus diperketat melalui tes psikologi yang ketat untuk memastikan kematangan emosi dan integritas moralnya,” tambahnya.

Secara teoretis, anak di usia awal berada dalam fase membangun rasa percaya. Dalam kerangka Psikologi Islam, pengasuhan di daycare seharusnya mengedepankan hubungan emosional yang hangat, bukan sekadar penitipan fisik. Untuk itu, ada beberapa poin krusial yang perlu diperhatikan.

Para pengasuh harus memiliki regulasi emosi yang baik agar mampu menghadapi perilaku anak tanpa kekerasan. Bagi orang tua, harus selalu waspada terhadap perubahan perilaku anak, seperti ketakutan yang tidak wajar, gangguan tidur, atau perubahan pola makan. Untuk lembaga, harus memiliki izin resmi dan rasio pengasuh-anak yang ideal untuk mencegah stres kerja pada pengasuh yang bisa berujung pada agresi.

Dedy mengimbau para orang tua untuk lebih selektif dan melakukan pengecekan langsung (cross-check) terhadap lingkungan daycare. Komunikasi yang intens dengan anak, meskipun anak belum mampu berbicara lancar, tetap menjadi kunci utama deteksi dini.

“Mari kita kembalikan fungsi pengasuhan sebagai bentuk ibadah untuk menjaga generasi masa depan. Jika orang tua menemukan tanda-tanda yang mencurigakan secara psikologis pada anak, segera konsultasikan dengan tenaga profesional agar dampak trauma tidak menjadi permanen,” tukasnya. [ian]