Membaca Kesiapan Golkar Aceh Menghadapi Pemilu 2029 dari Filosofi Regenerasi Timnas Spanyol

Membaca Kesiapan Golkar Aceh Menghadapi Pemilu 2029 dari Filosofi Regenerasi Timnas Spanyol

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp MediaKontras.ID

Oleh: Muhammad Furqan

(Mahasiswa Program Doktor Pendidikan IPS Universitas Syiah Kuala (USK) / Wakil Ketua AMPI Aceh)

 

Regenerasi merupakan salah satu faktor penentu keberlangsungan sebuah organisasi, baik dalam dunia politik, pemerintahan, maupun olahraga. Organisasi yang mampu menyiapkan kader sejak dini akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan menghadapi perubahan zaman dibandingkan organisasi yang hanya mengandalkan figur-figur lama.

 

Gagasan tersebut sejatinya telah lama dikemukakan oleh filsuf Muslim, Al-Farabi (872–951 M). Tokoh yang dikenal sebagai “Guru Kedua” setelah Aristoteles ini menghasilkan berbagai karya di bidang filsafat, logika, ilmu politik, matematika, hingga musik. Dalam karya monumentalnya Al-Madinah al-Fadilah (Negara Utama), Al-Farabi menjelaskan bahwa keberlangsungan sebuah negara sangat bergantung pada kualitas pemimpinnya.

 

Menurut Al-Farabi, tidak selalu akan hadir satu sosok yang memiliki seluruh sifat kepemimpinan ideal. Karena itu, kepemimpinan harus diwariskan kepada orang-orang yang memiliki kompetensi, karakter, dan kebajikan yang memadai. Dengan kata lain, regenerasi bukan sekadar pergantian figur, melainkan proses menyiapkan generasi penerus melalui pendidikan, pembinaan karakter, dan pengalaman organisasi.

 

Pemikiran tersebut tetap relevan hingga hari ini. Organisasi yang gagal membangun kaderisasi akan mengalami kemunduran, sedangkan organisasi yang mampu menyiapkan pemimpin baru secara berkelanjutan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang.

 

Dalam konteks politik Aceh, semangat regenerasi tersebut tampak pada kepengurusan baru DPD Partai Golkar Aceh yang dilantik di Hermes Palace, Banda Aceh, pada 11 Juli 2026. Kepengurusan yang dipimpin Ketua DPD Partai Golkar Aceh, Salim Fakhry, bersama Ketua Harian Khalid, Sekretaris Sabri Badruddin, dan Bendahara Rizki Adek, dilantik langsung oleh Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia.

 

Hal yang menarik dari kepengurusan tersebut adalah besarnya ruang yang diberikan kepada generasi muda. Sekitar 70 persen komposisi kepengurusan diisi oleh kader muda yang berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari aktivis kampus, organisasi kepemudaan (OKP), organisasi kemasyarakatan, hingga kader yang telah lama aktif di tengah masyarakat.

 

Komposisi ini menunjukkan adanya keyakinan bahwa regenerasi merupakan investasi jangka panjang bagi organisasi. Kehadiran generasi muda diharapkan mampu menghadirkan energi baru, inovasi, kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital, serta memperluas jaringan organisasi hingga ke tingkat desa.

 

Sebagaimana disampaikan Ketua DPD Partai Golkar Aceh, Salim Fakhry, partainya terbuka bagi seluruh kalangan. Fokus utama ke depan adalah memperkuat kaderisasi, melatih kepemimpinan, serta membangun struktur organisasi hingga ke tingkat kecamatan dan desa. Golkar juga mendorong keterlibatan kader dari berbagai profesi, seperti guru, petani, nelayan, pelaku UMKM, hingga pekerja kreatif.

 

Dalam proses kaderisasi tersebut, Partai Golkar memiliki organisasi sayap yang telah lama menjadi wadah pembinaan kepemimpinan, seperti AMPI dan AMPG. Bahkan, Salim Fakhry sendiri pernah aktif di organisasi sayap sebelum akhirnya dipercaya memimpin Partai Golkar Aceh. Hal ini menunjukkan bahwa regenerasi di tubuh Golkar dibangun melalui proses yang bertahap.

 

Jika ditarik dalam konteks yang lebih luas, pola regenerasi tersebut memiliki kemiripan konseptual dengan keberhasilan Tim Nasional Spanyol yang baru saja meraih gelar juara Piala Dunia FIFA 2026. Tentu, dunia politik dan sepak bola memiliki karakter yang berbeda, sehingga perbandingan ini bukan dimaksudkan untuk menyamakan keduanya secara mutlak. Namun, keduanya memperlihatkan pentingnya keberanian memberikan ruang kepada generasi muda.

 

Timnas Spanyol tampil dengan mengandalkan pemain-pemain muda seperti Pedri, Gavi, Lamine Yamal, Nico Williams, dan Pau Cubarsí. Mereka bukan sekadar pelengkap skuad, tetapi menjadi motor permainan. Keberhasilan tersebut lahir dari sistem pembinaan usia muda yang berjalan secara terstruktur, konsisten, dan memiliki identitas yang kuat sejak level akademi.

 

Hal serupa mulai terlihat dalam pola kaderisasi Golkar Aceh. Generasi muda direkrut dari berbagai organisasi, kemudian dibina melalui organisasi sayap dan diberikan ruang dalam kepengurusan partai. Sementara itu, para tokoh senior tidak disingkirkan, melainkan tetap ditempatkan sebagai Dewan Kehormatan, Dewan Pertimbangan, maupun Dewan Pakar untuk memberikan arahan, pengalaman, dan keseimbangan organisasi.

 

Model regenerasi seperti ini menunjukkan bahwa kader muda diberi kepercayaan sebelum organisasi menghadapi krisis kepemimpinan. Regenerasi yang dilakukan lebih awal akan menciptakan kesinambungan, sedangkan regenerasi yang terlambat sering kali membuat organisasi kehilangan momentum.

 

Keberhasilan Timnas Spanyol akhirnya diukur melalui prestasi di lapangan. Sementara itu, keberhasilan Golkar Aceh tentu akan dinilai melalui kerja organisasi, kualitas kaderisasi, kontribusi nyata kepada masyarakat, serta kemampuan membangun kepercayaan publik.

 

Pertanyaannya kemudian, apakah komposisi kepengurusan yang didominasi generasi muda, dengan tetap didampingi para senior, mampu membawa Golkar Aceh meraih kemenangan pada Pemilu 2029?

 

Jawabannya tentu masih membutuhkan waktu. Namun, jika regenerasi dijalankan secara konsisten, kader diberi ruang untuk tumbuh, dan kerja-kerja politik benar-benar berorientasi pada kepentingan masyarakat, maka peluang tersebut bukan sesuatu yang mustahil.

 

Pada akhirnya, sebagaimana filosofi yang diajarkan Al-Farabi, keberhasilan sebuah organisasi tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin hari ini, tetapi juga oleh seberapa baik organisasi itu mempersiapkan pemimpin masa depannya. Regenerasi bukan sekadar pergantian generasi, melainkan investasi jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan organisasi.

 

Kini, masyarakat Aceh akan menjadi saksi bagaimana kader-kader muda Golkar bekerja di bawah kepemimpinan Salim Fakhry. Waktu akan membuktikan apakah strategi regenerasi ini mampu menjadikan Golkar Aceh semakin kuat dan kompetitif menghadapi Pemilu 2029.

 

Semoga setiap ikhtiar yang dilakukan untuk membangun organisasi dan mengabdi kepada masyarakat Aceh senantiasa mendapat rida Allah Swt.

Topik