MediaKontras.id | Dibalik sunyinya gang Gampong Sidodadi, Kecamatan Langsa Lama tersimpan cerita ketabahan seorang ibu. Dimana sosok Lela, 42, dengan piawanya sedang merapikan dagangan di warung kelontong kecil miliknya saat ditemui.
Jumat, 28 Agustus 2026 terlihat mentari menampakkan wajah cerahnya, diujung gang ada warung sederhana menjadi benteng terakhir pertahanan ekonomi keluarganya di tengah ketidakpastian bantuan Jaminan Hidup (Jadup) tahap III yang tak kunjung terealisasi oleh pemerintah hingga akhir Agustus ini.
Bagi Lela dan warga terdampak lainnya, cobaan seolah datang bertubi-tubi. Saat banjir menerjang desa mereka beberapa waktu lalu, Lela dan keluarga terpaksa mengungsi ke rumah tetangga. Selama masa darurat hingga pemulihan, mereka bertahan hidup hanya berbekal uang simpanan yang sangat pas-pasan.
Beban hidup tak berhenti di situ. Memasuki masa pemulihan pascabanjir, Lela harus memutar otak untuk melunasi cicilan utang kredit. Meski pihak penyedia kredit memberikan kelonggaran penundaan bayar selama tiga bulan atau yang lazim disebut relaksasi dunia perbankan, namun kekecewaan lain justru muncul dari tagihan operasional harian.
“Meskipun adanya relaksasi, tetapi untuk tagihan listrik harus terus dibayarkan secara kontinyu,” hela Lela saat itu.
Hal lain keterlambatan penyaluran Jadup tahap III ini memicu gelombang protes warga. Terhitung sudah dua kali aksi demonstrasi digelar oleh masyarakat Gampong Sidodadi untuk menuntut kejelasan dari pihak pemerintah desa terkait pencairan dana jadup.
Hal yang paling disayangkan oleh Lela adalah isu mengenai keberadaan dana tersebut. Menurut informasi yang beredar di tengah warga, anggaran Jadup sebenarnya sudah ada, namun hingga kini uang tersebut belum juga sampai ke tangan warga yang berhak menerimanya.
“Kami sangat menyayangkan, kalau memang uangnya sudah ada, kenapa belum ditransfer atau diserahkan ke warga? Kami sangat membutuhkan uang itu untuk menyambung hidup dan menutup biaya pemulihan,” tukasnya penuh harap. [ian/dh]
