Lewati ke konten

Tamparan Keras Terhadap Dunia Pendidikan di Indonesia, Moral, Etika dan Integritas Dipertanyakan

Rapian Rapian 25 Agustus 2026 · 12:32 WIB
Bagikan
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp MediaKontras.ID
Gabung

MediaKontras.id | Dunia pendidikan merupakan tempat lahirnya orang orang yang bermoral, beretika dan berintegritas tinggi. Perguruan tinggi tempat orang belajar dan terdidik untuk menjadi orang yang hidup bersinergi dengan kebenaran, keadilan, kejujuran, keluhuran budi pekerti, ketinggian akhlak dan ketulusan jiwa.

Ketinggian ilmu menjadikan orang peka dengan berbagai kondisi orang lain untuk berbuat kebajikan, menolong sesama, penuh kasih sayang serta menjadi tempat orang untuk bertanya berbagai masalah dalam kehidupan. Beginilah semestinya semua orang yang berada di dunia perguruan tinggi.

“Perubahan yang terjadi karena perkembangan ilmu dan teknologi serta kemajuan di segala bidang seharusnya tidak menggeser atau tergusur roh dan hakekat perguruan tinggi ke arah yang jahiliyah berupa kebrobrokan moral dan etika dan hilangnya Integritas,” kata Prof. Dr. Drs. Muzakkir Samidan, SH, MH, M.PD, Dosen dan Guru Besar IAIN Langsa, Selasa, 25 Agustus 2026.

Sekaitan tertangkap tangan salah satu Rektor pada tanggal 20 agustus 2026 yang lalu oleh KPK yang berstatus Rektor PTN Universitas Jenderal Soedirman Poerwokeryo berinisial AS di Jakarta dan Poerwokerto memperlihatkan kehancuran moral, etika dan integriras para pimpinan perguruan tinggi.

Imbasnya adalah menjadi sebuah adegium bahwa terjadi kebrobrokan moral, etika dan integritas para ilmuwan, karena rektor merupakan seorang dosen maka ini tentu sangat memilukan bagi dunia pendidikan tinggi. “Dan hal ini terus terjadi hampir setiap tahun penangkapan Rektor oleh KPK di seluruh Indonesia, di mana Pimpinan Perguruan Tinggi berada dalam pusaran korupsi dan manipulasi dengan berbagai model dan modus dalam jabatannya,” tegas Prof. Dr. Drs. Muzakkir Samidan.

Jika pelaku kejahatan korupsi sudah masuk ke ruang keilmuwan seperti perguruan tinggi, maka akibat yang ditimbulkan tentu jauh lebih besar dan mengerikan, karena bisa jadi lulusan perguruan tinggi yaitu alumni akan mencontoh dan mengikuti apa yang dilakukan oleh pimpinan perguruan tinggi. Pepatah mengatakan, jika guru kencing berdiri maka murid kecing berlari, papar Prof Muzakkir Samidan.

Penangkapan Rektor PTN Universitas Jendral Soedirman dengan belasan orang yang juga menyeret dua Wakil Rektor Universitas Jendral Soedirman di tahun 2026 dan juga yang terjadi setahun yang lalu, kiranya menjadi tamparan serius bagi semua pimpinan perguruan tinggi di Indonesia agar berhenti melakukan kejahatan korupsi dan manipulasi.

“Jangan karena perut sejengkal, marwah, moral, etika dan integritas dipertaruhkan. Semua itu sangat memalukan dan memilukan serta tidak ada gunanya. Jadilah rektor yang bisa menjadi contoh dan panutan semua orang dan guru bangsa,” jelasnya.

Menurutnya, sebagai dosen saya merasa seperti meludah ke muka sendiri, berkaca dari penangkan Rektor Universitas Jendral Soedirman, karena Rektor Universitas adalah dosen. Secara tidak langsung orang mulai bertanya, jika kejahatan bisa terjadi di perguruan tinggi, apa lagi yang mau diharapkan.

Perguruan Tinggi tempat untuk mengajarkan manusia agar menjadi orang yang bermoral, beretika, berintegritas dan orang orang yang berakhlak mulia, untuk itu kita sangat berharap penentuan Rektor pada perguruan tinggi manapun yang seleksiya ilakukan oleh Senat kiranya dilakukan dengan sangat selektif, ketat dan hati hati.

Senat tidak boleh merasa takut atau tidak nyaman dengan calon Rektor yang tidak akan direkomemdasikan, sekalipun sedang menjabat. Maka semua pimpinan dalam perguruan tinggi yang menjadi anggota senat tidak boleh merasa harus balas budi atau balas jasa untuk mengusung seorang calon rektor, merasa tidak enak karena diberi jabatan atau karena sebab sebab lain.

Senat harus berani menolak calon yang dianggap tidak bermoral dan tidak berintegritas, sekalipun teman dan sahabat. Kepentingan perguruan tinggi jauh lebih penting dan utama dari pada calon Rektor yang tidak bisa dipercaya sekalipun dekat dengan Jakarta.

“Dengan kejadian penangkapan Rektor PTN Universitas Jendral Soedirman oleh KPK, ini jarus menjadi pelajaran penting untuk melakukan perubahan pada tata kelola di dunia perguruan tinggi dalam semua aspek, agar perguruan tinggi benar benar kembali pada hakekatnya sebagai wadah mencetak dan melahirkan manusia yang bermoral, berbudi luhur, beradab, beretikan, berintegritas yang berakhlak yang mulua,” tandas Prof. Dr. Muzakkir Samidan. [ian]

Bagikan