Jakarta, MediaKontras.id | Akademisi muda, M. Fadil Haq, menegaskan bahwa kritik mahasiswa tetap memiliki peran penting dalam demokrasi, namun harus disampaikan secara konstruktif, berbasis data, dan menawarkan solusi nyata bagi masyarakat.
Menurut Fadil, kebebasan menyampaikan pendapat merupakan hak konstitusional yang harus dijaga. Namun, ia mengingatkan bahwa kritik tidak boleh berhenti pada penolakan semata tanpa arah perbaikan yang jelas.
“Kritik itu penting, tetapi harus disertai argumentasi yang kuat dan solusi yang konkret. Tanpa itu, kritik berisiko kehilangan substansi,” ujarnya.
Fadil juga menyoroti fenomena aksi mahasiswa yang belakangan meningkat. Ia menilai, publik berhak mempertanyakan apakah tuntutan yang disampaikan benar-benar berorientasi pada kepentingan rakyat atau justru dipengaruhi kepentingan kelompok tertentu.
Di tengah situasi tersebut, ia mengajak masyarakat untuk tetap objektif dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang belum tentu mencerminkan kepentingan publik secara luas.
Lebih lanjut, Fadil melihat bahwa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini tengah berupaya melakukan pembenahan di berbagai sektor, termasuk penguatan program kebutuhan dasar masyarakat dan perbaikan tata kelola negara.
Menurutnya, langkah-langkah seperti pemberantasan korupsi dan penertiban praktik ekonomi yang tidak sehat memang berpotensi menimbulkan resistensi dari pihak-pihak tertentu.
Fadil juga menyinggung kritik terhadap sejumlah program strategis pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan penguatan Koperasi Desa Merah Putih. Ia menilai kritik seharusnya diarahkan pada evaluasi dan penyempurnaan, bukan penghentian program.
“Dalam demokrasi yang sehat, yang dibutuhkan adalah perbaikan, bukan sekadar penolakan. Jika ada kekurangan, mari diperbaiki bersama,” katanya.
Ia menegaskan bahwa mahasiswa memiliki posisi penting sebagai kekuatan moral bangsa. Oleh karena itu, independensi gerakan harus dijaga agar tidak dimanfaatkan oleh kepentingan politik praktis.
“Mahasiswa harus tetap menjadi kekuatan intelektual yang independen. Gerakan akan lebih dihormati jika hadir dengan data, kajian, dan solusi konkret,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Fadil mengajak seluruh elemen bangsa untuk mengedepankan dialog dan kolaborasi dalam mengawal pembangunan nasional.
“Kritik konstruktif akan jauh lebih bermanfaat dibandingkan narasi yang hanya memperkeruh suasana,” tutupnya.






