Alam Peudeung Dinilai Lebih Merepresentasikan Sejarah Kesultanan Aceh, Ini Alasannya

Alam Peudeung Dinilai Lebih Merepresentasikan Sejarah Kesultanan Aceh, Ini Alasannya

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp MediaKontras.ID

BANDA ACEH, MediaKontras.id | Aliansi Mahasiswa Pemuda Aceh Leuser Antara mendorong pelestarian Bendera Alam Peudeung sebagai simbol sejarah Kesultanan Aceh Darussalam yang dinilai memiliki nilai budaya dan historis sebagai identitas masyarakat Aceh.

Koordinator Aliansi Mahasiswa Pemuda Aceh Leuser Antara, Said Ahmad, mengatakan Alam Peudeung merupakan warisan sejarah yang telah dikenal sejak masa Kesultanan Aceh Darussalam dan tidak lahir dari dinamika politik modern.

“Bendera Alam Peudeung bukanlah simbol yang lahir dari dinamika politik modern, melainkan bagian dari warisan Kesultanan Aceh Darussalam yang telah dikenal selama berabad-abad. Simbol ini mencerminkan kejayaan, persatuan, dan kedaulatan Aceh pada masa lalu,” ujar Said Ahmad dalam keterangannya, Minggu.

Menurutnya, sejumlah kajian sejarah menyebutkan bahwa Alam Peudeung telah digunakan sejak perkembangan awal Kesultanan Aceh pada abad ke-15 hingga ke-16, kemudian menjadi panji resmi Kesultanan Aceh hingga berakhirnya Perang Aceh melawan kolonial Belanda pada awal abad ke-20. Dalam sejumlah tradisi adat, bendera tersebut juga masih dikibarkan sebagai bagian dari pelestarian sejarah Kesultanan Aceh.

Said Ahmad menilai masyarakat Aceh memerlukan simbol yang mampu merangkul seluruh elemen masyarakat berdasarkan sejarah bersama.

“Kami memandang Alam Peudeung memiliki nilai sejarah yang dapat diterima sebagai identitas budaya Aceh. Simbol ini menjadi pengingat bahwa Aceh pernah berdiri sebagai kerajaan besar yang disegani di kawasan Asia Tenggara,” katanya.

Aliansi tersebut juga mengajak seluruh pihak agar pembahasan mengenai simbol daerah tidak menjadi ruang polarisasi politik yang berkepanjangan.

“Kami berharap tidak ada lagi penggunaan simbol-simbol yang menimbulkan perdebatan politik berkepanjangan. Sudah saatnya masyarakat Aceh mengedepankan simbol yang berakar pada sejarah dan kebudayaan sehingga dapat menjadi perekat persatuan seluruh rakyat Aceh,” lanjutnya.

Said Ahmad menegaskan bahwa pelestarian Alam Peudeung harus dipahami sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan kebudayaan Aceh, bukan sebagai upaya menghidupkan kembali romantisme politik masa lalu.

“Melestarikan Alam Peudeung bukan berarti menghidupkan romantisme politik masa lalu, tetapi menghormati sejarah dan kebudayaan Aceh sebagai bagian dari khazanah bangsa Indonesia,” ujarnya.

Aliansi Mahasiswa Pemuda Aceh Leuser Antara juga mengajak tokoh adat, akademisi, sejarawan, pemerintah, dan masyarakat Aceh untuk membangun dialog yang objektif berdasarkan fakta sejarah, sehingga identitas budaya Aceh dapat menjadi kekuatan pemersatu bagi generasi mendatang.

Referensi sejarah yang disebutkan dalam pernyataan tersebut antara lain kajian mengenai panji Kesultanan Aceh dalam Flags of the Aceh Sultanate, Flags of Aceh, buku Tarich Atjeh dan Nusantara karya H.M. Zainuddin (1961), serta pemberitaan mengenai pengibaran Alam Peudeung sebagai simbol pelestarian sejarah Kesultanan Aceh.

Topik