Mediakontras.id | Semburat matahari pagi belum sepenuhnya meninggi, namun halaman depan Kantor Geuchik Gedubang Jawa sudah berdenyut. Udara sejuk khas pagi hari seketika lebur oleh riuh rendah tawa, obrolan hangat, dan antusiasme warga yang menyemut. Ada gairah yang tak biasa di sana; sebuah momentum demokrasi tingkat desa tengah digulirkan.
Hari itu, Rabu, 17 Juni 2026, seluruh elemen kampung berkumpul. Mulai dari perangkat desa, Panitia Pelaksanaan Pemilihan Geuchik (P2G), Tuha Peut, Babinsa, tim sukses, hingga warga biasa yang didorong rasa penasaran. Mereka hadir untuk menyaksikan satu agenda krusial, pencabutan nomor urut para calon pemimpin Gampong Gedubang Jawa.
Dari tiga nama yang resmi maju bertarung dalam kontestasi, ada satu magnet yang sukses mencuri perhatian publik. Pandangan mata warga seolah tertuju pada satu sosok Syahreza Al Fahrozy Siregar, pemuda yang berdiri percaya diri dengan nomor urut 03 di tangannya.
Sosok yang akrab disapa Rozi atau Ozi ini adalah kontestan termuda dalam pemilihan kali ini. Di usianya yang baru menginjak 26 tahun, Ozi membawa angin segar. Karisma pemuda lulusan S1 Teknik Sipil Universitas Abulyatama Aceh ini perlahan memikat hati warga, melahirkan keyakinan baru bahwa tangan mudanya mampu menata gampong ke arah yang jauh lebih baik.
“Ozi bisa! Ozi bisa! Gedubang Jawa maju!”
Pekik membahana dari para pendukung dan simpatisan memecah suasana sesaat setelah nomor urut resmi ditarik. Riuh yel-yel itu bukan sekadar formalitas, melainkan representasi dari harapan besar warga yang merindukan kemajuan.
Meski tergolong belia, rekam jejak Ozi tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia datang dengan modal kepemimpinan yang matang di dunia profesional. Ozi tercatat sebagai Komisaris Utama PT Hamid Kamariah Investama, Direktur Utama PT Rozi Gemilang Raya, serta mantan Staf Ahli DPRA periode 2022–2024. Bagi Ozi, deretan jabatan mentereng itu bukanlah sekadar deretan gelar di atas kertas, melainkan ruang tempaan pengalaman yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Bagi Ozi, Gampong Gedubang Jawa bukanlah sekadar titik koordinat tempat ia tinggal. Tempat ini adalah ruang tumbuh, memori masa kecil, dan bagian belahan jiwanya.
“Saya besar di sini. Ketika saya merantau untuk kuliah, saya selalu menanamkan dalam diri bahwa ilmu yang saya dapatkan harus kembali dan bermanfaat untuk gampong ini. Dan inilah momentumnya,” tutur Ozi dengan tatapan mata yang mantap.
Di bawah kepemimpinannya kelak, Ozi memimpikan Gedubang Jawa bertransformasi menjadi desa percontohan. Sebagai seorang sarjana teknik, ia paham betul apa yang harus disentuh terlebih dahulu. Pasca-bencana banjir yang sempat melanda, banyak infrastruktur desa yang meranggas dan butuh perhatian khusus.
“Banyak warga yang mengeluh kepada saya. Jalan-jalan rusak meminta ditambal atau dibuat baru, drainase yang perlu diperlebar, hingga lampu penerangan jalan yang minim di sudut-sudut desa. Ini prioritas yang akan langsung kita eksekusi,” jelasnya.
Selain infrastruktur fisik dan penyaluran stimulan bantuan sosial (BLT) yang tepat sasaran, Ozi juga menyimpan empati mendalam pada urusan sosial-keagamaan. Ia merancang program pembebasan biaya pemakaman hingga seluruh perlengkapan fardhu kifayah bagi warga yang berduka.
“Orang yang sedang kemalangan tidak boleh lagi dipusingkan oleh urusan biaya pemakaman. Di sinilah peran pemerintah desa untuk hadir mengayomi. Bagi saya, memuliakan warga di saat-saat sulit seperti itu jauh lebih penting dari hal lainnya,” ujar Ozi sambil melempar senyum hangat.
Menatap masa jabatan enam tahun ke depan, Ozi melihatnya bukan sebagai ajang pamer kekuasaan, melainkan waktu yang krusial untuk mengabdi. Mengacu pada Undang-Undang Desa, visinya bertumpu pada transparansi, tata kelola pemerintahan yang bersih (good governance), pembangunan berkelanjutan, serta pemberdayaan ekonomi berbasis masyarakat. Ia juga bermimpi membangun fasilitas olahraga yang layak demi menyemai pola hidup sehat di tengah warga.
Di akhir perbincangan, ia menyelipkan sebuah pesan menyentuh tentang hakikat persaudaraan di desa. “Gedubang Jawa ini tidaklah terlalu luas. Ke mana pun kita melangkah, kita akan berjumpa dengan orang yang sama. Karena itu, penting bagi kita untuk saling menjaga dan membantu layaknya keluarga sendiri,” pesannya.
Bagi pemuda yang mengusung semboyan “Yang Muda Membawa Harapan, Yang Muda Berkarya, Yang Muda Bisa, Yang Muda Juara” ini, perubahan besar hanya bisa lahir dari kerja kolektif.
“Kita harus bergerak bersama, berkolaborasi, dan membangun sinergi yang kuat. Ke depan, Gedubang Jawa harus mampu memberi citra positif dan menjadi barometer desa terbaik di Kota Langsa, bahkan di Aceh,” pungkas Ozi optimistis. *****






