Bener Meriah | Badan Gizi Nasional (BGN) terus memperkuat kolaborasi strategis dengan pemerintah daerah dalam menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi anak bangsa, program prioritas nasional ini juga diarahkan menjadi penggerak ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan petani, peternak, nelayan, pelaku UMKM, dan koperasi lokal.
Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan koordinasi dan silaturahmi antara Koordinator Wilayah BGN Aceh, Mustafa Kamal, S.Sos., yang didampingi Koordinator Wilayah BGN Kabupaten Bener Meriah, Amsal, S.E., M.E., bersama para Koordinator Kecamatan (Korcam) dan Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) se-Kabupaten Bener Meriah dengan jajaran Pemerintah Kabupaten Bener Meriah.
Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat, penuh semangat kebersamaan, serta diwarnai diskusi mendalam mengenai penguatan ketahanan pangan dan pengembangan ekonomi masyarakat.
Kegiatan tersebut dipimpin oleh Dr. Samusi Purnawira Dade, S.IP., M.Si., selaku Asisten II yang mewakili Bupati Bener Meriah, didampingi dr. Jawahir Syahputra, M.K.M., selaku Tim Ahli, bersama Satuan Tugas MBG dan jajaran Bidang Pertanian Kabupaten Bener Meriah.
Bener Meriah Diproyeksikan Menjadi Salah Satu Kekuatan Pangan Aceh
Salah satu pembahasan utama dalam pertemuan tersebut adalah upaya menjadikan Kabupaten Bener Meriah sebagai salah satu sentra produksi dan pemasok bahan pangan strategis untuk mendukung operasional dapur-dapur MBG di seluruh Aceh.
Dengan potensi lahan pertanian yang luas, kondisi alam yang mendukung, serta kekuatan sektor pertanian dan peternakan, Bener Meriah dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi pusat penyediaan bahan pangan lokal.
Pembahasan tidak hanya menyangkut ketersediaan bahan baku, tetapi juga bagaimana membangun sistem ekonomi yang terintegrasi dari tingkat petani hingga dapur pelayanan gizi.
Melalui penguatan rantai pasok lokal, hasil pertanian, peternakan, perikanan, serta produk UMKM diharapkan dapat terserap secara berkelanjutan oleh kebutuhan operasional SPPG.
Langkah ini sekaligus diarahkan untuk mengurangi ketergantungan pasokan bahan pangan dari luar daerah, memperkuat kemandirian pangan Aceh, dan menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Ke depan, penguatan ekosistem pangan tersebut juga diharapkan melibatkan sejumlah kabupaten potensial, seperti Aceh Tengah, Bireuen, dan Pidie Jaya, sebagai bagian dari jaringan produksi dan distribusi pangan Aceh.
Komoditas yang menjadi perhatian meliputi sayuran, buah-buahan, beras, ikan, ayam, telur, daging, serta berbagai kebutuhan pangan bergizi lainnya.
Korwil BGN Aceh: MBG Harus Menghidupkan Ekonomi Masyarakat
Koordinator Wilayah BGN Aceh, Mustafa Kamal, S.Sos., menyambut positif komitmen Pemerintah Kabupaten Bener Meriah dalam memperkuat kolaborasi lintas sektor.
Menurutnya, keberhasilan MBG perlu dilihat secara menyeluruh, bukan hanya dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari kemampuan program menciptakan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat.
Usulan pernyataan Mustafa Kamal untuk dikonfirmasi:
«“Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak kita. Program ini harus menjadi kekuatan ekonomi baru yang mampu menghidupkan pertanian, peternakan, perikanan, UMKM, dan koperasi masyarakat. Kita ingin dapur-dapur MBG menciptakan pasar yang nyata bagi hasil produksi masyarakat Aceh sendiri.”»
Ia juga menekankan pentingnya membangun kemandirian pasokan pangan antardaerah di Aceh melalui koordinasi yang kuat antara BGN, pemerintah daerah, dan para pelaku usaha lokal.
«“Aceh memiliki potensi sumber daya alam yang besar. Bener Meriah, Aceh Tengah, Bireuen, Pidie Jaya, dan daerah lainnya memiliki kekuatan masing-masing. Apabila seluruh potensi ini terhubung dalam satu ekosistem pangan, kita berharap kebutuhan dapur MBG di Aceh semakin banyak dipenuhi oleh hasil produksi masyarakat Aceh sendiri.
Semangat tersebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintah pusat yang mendorong agar Program MBG tidak hanya meningkatkan kualitas gizi, tetapi juga memberikan dampak ekonomi melalui keterlibatan pelaku usaha dan produsen pangan lokal.
Korwil BGN Bener Meriah: Dapur MBG Harus Menjadi Pasar bagi Petani Lokal
Sementara itu, Koordinator Wilayah BGN Kabupaten Bener Meriah, Amsal, S.E., M.E., menekankan pentingnya membangun hubungan langsung antara produsen pangan lokal dengan kebutuhan bahan baku SPPG.
Menurutnya, keberadaan dapur MBG membuka peluang terbentuknya permintaan pangan yang lebih terencana dan berkelanjutan.
Usulan pernyataan Amsal untuk dikonfirmasi:
«“Kita ingin setiap dapur MBG yang beroperasi di Bener Meriah memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar. Petani memiliki pasar, peternak mendapatkan kepastian permintaan, pelaku UMKM berkembang, koperasi semakin berdaya, dan masyarakat memperoleh kesempatan kerja.”
Ia menambahkan bahwa penguatan rantai pasok harus dilakukan secara terencana, dengan memperhatikan kualitas bahan pangan, kontinuitas produksi, keamanan pangan, dan kemampuan distribusi.
“Harapan kita, semakin berkembang pelayanan MBG, semakin besar pula perputaran ekonomi di tengah masyarakat. Dapur MBG bukan hanya tempat menyiapkan makanan bergizi, tetapi juga dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi lokal yang manfaatnya dirasakan hingga ke tingkat desa.”
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat koordinasi antara pengelola SPPG, petani, kelompok tani, koperasi, pelaku UMKM, serta pemerintah daerah.
Pemerintah Daerah Dorong Penguatan Pertanian dan Kemandirian Pangan
Dalam diskusi yang berlangsung intensif dan konstruktif, jajaran Pemerintah Kabupaten Bener Meriah memberikan berbagai masukan mengenai strategi pemberdayaan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.
Salah satu perhatian utama adalah bagaimana memastikan masyarakat lokal memperoleh kesempatan sebesar-besarnya untuk terlibat dalam rantai pasok MBG.
Perwakilan bidang pertanian juga menyampaikan contoh positif dari sektor perikanan, khususnya budidaya ikan lele.
Menurut informasi yang disampaikan dalam pertemuan, hasil budidaya ikan lele dari sejumlah pembudidaya telah terserap oleh kebutuhan dapur MBG.
Kondisi ini menjadi gambaran awal bagaimana permintaan bahan pangan dari dapur MBG dapat membuka peluang pasar baru bagi produsen lokal.
Ke depan, pola serupa diharapkan dapat diperluas ke berbagai komoditas pangan lainnya, dengan tetap memperhatikan standar mutu, harga yang wajar, dan keberlanjutan pasokan.
MBG Menjangkau Wilayah Terpencil, Menyiapkan Generasi Emas Indonesia
Selain penguatan ekonomi, pertemuan tersebut turut menyoroti pentingnya pemerataan pelayanan gizi bagi anak-anak sekolah, terutama yang berada di wilayah terpencil, tertinggal, dan sulit dijangkau.
Pemerintah daerah menyampaikan berbagai masukan agar pelaksanaan MBG terus diperkuat, khususnya dalam menjangkau wilayah dengan tantangan geografis dan akses distribusi yang terbatas.
Program MBG dipandang sebagai salah satu upaya penting untuk mendukung pemenuhan kebutuhan gizi peserta didik, meningkatkan kesiapan belajar, serta membantu anak-anak mengikuti kegiatan pendidikan secara lebih optimal.
Dalam pertemuan tersebut juga disampaikan adanya tanggapan positif mengenai antusiasme anak-anak terhadap pelaksanaan program.
Meski demikian, peningkatan kualitas gizi dan dampaknya terhadap konsentrasi maupun hasil belajar tetap perlu dipantau dan dievaluasi secara berkelanjutan.
BGN dan Pemerintah Kabupaten Bener Meriah memiliki perhatian yang sama agar anak-anak di wilayah terpencil memperoleh kesempatan yang setara dalam mengakses makanan bergizi.
Hal ini menjadi bagian dari upaya jangka panjang dalam mempersiapkan Generasi Emas Indonesia 2045, yakni generasi yang sehat, cerdas, produktif, dan mampu menjadi pemimpin bangsa pada masa mendatang.
Membangun Efek Berganda Ekonomi: Dari Dapur MBG hingga Kesejahteraan Masyarakat
Sinergi antara BGN dan pemerintah daerah diharapkan dapat membentuk ekosistem ekonomi yang saling menguatkan.
Ketika dapur MBG membutuhkan bahan pangan secara rutin, permintaan tersebut berpotensi memberikan manfaat berlapis bagi berbagai sektor.
Petani memperoleh peluang pasar yang lebih luas. Peternak dan pembudidaya ikan memiliki kesempatan meningkatkan kapasitas produksi. Pelaku UMKM dapat mengembangkan usaha pengolahan dan penyediaan bahan pangan.
Koperasi berpeluang mengambil peran dalam pengumpulan hasil produksi, penguatan distribusi, serta pengembangan kemitraan usaha.
Di sisi lain, kebutuhan operasional dapur MBG juga membuka peluang kerja bagi tenaga pengolah makanan, tenaga distribusi, pemasok, dan berbagai layanan pendukung.
Perputaran ekonomi tersebut diharapkan mampu mendorong peningkatan pendapatan masyarakat, memperkuat ekonomi desa, menumbuhkan usaha baru, dan meningkatkan aktivitas perdagangan antardaerah.
Dengan demikian, MBG memiliki potensi menciptakan efek berganda ekonomi (multiplier effect) yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat.
Dari petani yang menanam, peternak yang menghasilkan, nelayan yang menyediakan, UMKM yang mengolah, koperasi yang mendistribusikan, hingga dapur MBG yang menyajikan makanan bergizi, seluruhnya dapat menjadi bagian dari satu ekosistem ekonomi yang saling mendukung.
BGN dan Pemkab Bener Meriah Berkomitmen Memperkuat Kolaborasi
Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk mempererat komunikasi, menyelaraskan langkah, dan memperkuat komitmen bersama dalam mendukung keberhasilan program strategis pemerintah.
BGN dan Pemerintah Kabupaten Bener Meriah berharap sinergi ini dapat ditindaklanjuti melalui koordinasi teknis, pemetaan potensi komoditas lokal, penguatan kapasitas produsen, serta pengembangan jaringan pasokan pangan yang berkelanjutan.
Kerja sama antardaerah di Aceh juga diharapkan semakin kuat, sehingga potensi pertanian, peternakan, perikanan, dan UMKM dapat berkembang secara terintegrasi.
Pada akhirnya, keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis bukan hanya tentang tersedianya makanan bergizi di meja anak-anak sekolah, tetapi juga tentang hadirnya peluang ekonomi di tengah masyarakat.
Dari tanah pertanian Bener Meriah hingga dapur-dapur MBG di berbagai wilayah Aceh, terbangun harapan agar setiap piring makanan bergizi turut membawa manfaat bagi petani, peternak, nelayan, pelaku UMKM, pekerja lokal, dan keluarga Indonesia.
“Dapur MBG Menciptakan Pasar, Pasar Menggerakkan Ekonomi, Ekonomi Menguatkan Daerah, dan Gizi Berkualitas Mempersiapkan Generasi Emas Bangsa.”
Bener Meriah – Bersinergi untuk Gizi, Mandiri dalam Pangan, dan Kuat dalam Ekonomi.

