MediaKontras.id | Pengurus Wilayah Angkatan Puteri Al Washliyah (PW APA) Provinsi Banten meminta pemerintah meningkatkan langkah antisipasi untuk menjamin keselamatan jemaah umrah Indonesia di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman.
Ketua PW APA Banten, Halimatur Ruhiyah, mengatakan pemerintah perlu menyiapkan langkah mitigasi, termasuk opsi penundaan sementara keberangkatan jika situasi keamanan semakin memburuk.
Desakan tersebut muncul setelah serangkaian serangan dilaporkan menyasar Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan menyebabkan dua warga negara Indonesia mengalami luka ringan. Berdasarkan keterangan KBRI Riyadh, kedua WNI tersebut bukan jemaah umrah.
Menurut Halimatur, keselamatan jiwa harus menjadi prioritas dalam setiap kebijakan perjalanan ibadah. Ia mengingatkan prinsip hifzh an-nafs atau perlindungan jiwa dalam Islam menjadi landasan penting dalam mempertimbangkan risiko keberangkatan.
“Kami tidak meminta pemerintah terburu-buru menghentikan keberangkatan umrah. Namun, apabila situasinya semakin membahayakan, pemerintah harus berani mengambil langkah pencegahan, termasuk opsi penundaan sementara,” ujarnya, Rabu (14/10/2026).
Ia meminta Kementerian Haji dan Umrah, Kementerian Luar Negeri, serta Kementerian Perhubungan berkoordinasi memantau perkembangan keamanan, termasuk jalur penerbangan dan potensi ancaman di wilayah udara.
Selain itu, pemerintah bersama Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) diharapkan menyiapkan mekanisme perlindungan bagi jemaah, terutama terkait penjadwalan ulang dan kepastian hak keuangan apabila keberangkatan ditunda.
Halimatur menegaskan, kebijakan harus didasarkan pada informasi terverifikasi dan penilaian otoritas terkait, bukan semata-mata kekhawatiran akibat pemberitaan konflik.
Ia berharap pemerintah memberikan informasi yang transparan kepada masyarakat serta memastikan calon jemaah memperoleh kepastian mengenai keamanan perjalanan.
“Jika ancaman keselamatan semakin nyata, penundaan sementara bukan berarti menghalangi ibadah, melainkan bentuk ikhtiar untuk melindungi jiwa manusia,” pungkasnya.

