MediaKontras.id | Aroma pekat kopi saring khas Aceh membubung tipis, menyatu dengan gemerisik dedaunan di area kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa.
Di balik riuknya aktivitas akademis dan tumpukan tugas perkuliahan, ada satu sudut yang tak pernah benar-benar sepi: Zawiyah Kupi. Lebih dari sekadar warung kopi, tempat ini menjelma menjadi suatu tempat ide-ide lahir, gagasan diuji, dan persahabatan dirajut.
Mengambil nama “Zawiyah” sebuah kata yang lekat dengan sejarah intelektual Islam dan akar identitas kampus yang bermula dari STAIN Zawiyah Cot Kala, warkop ini membawa napas kehangatan tersendiri di lingkungan akademis.
Budaya warkop masyarakat Aceh yang kental akan silaturahmi tercermin penuh di Zawiyah Kupi. Tempat ini bukan sekadar destinasi berburu kafein, melainkan ruang publik yang mempertemukan ruang berpikir dan ruang santai.
Di tiap seduhan kopi yang disajikan, Zawiyah Kupi menyimpan ribuan cerita tentang dinamika kehidupan kampus IAIN Langsa tentang tawa pertemanan, lelahnya perjuangan meraih gelar, hingga imajinasi masa depan yang dirajut di atas meja kayu yang sederhana.
Sri Rahayu, salah seorang mahasiswa, mengungkapkan bahwa Zawiyah Kupi tidak hanya berfungsi sebagai tempat singgah untuk makan dan minum, melainkan juga sebagai ruang publik untuk berdiskusi.
Pada akhirnya, Zawiyah Kupi bukan sekadar tentang rasa pahit dan manisnya cairan hitam di dalam cangkir. Ia adalah saksi bisu tumbuh kembangnya anak-anak muda IAIN Langsa.
Selama racikan kopi terus dituangkan dan meja-meja sederhana itu masih dipenuhi canda tawa serta perdebatan hangat, Zawiyah Kupi akan selalu menjadi rumah tempat pulang bagi setiap gagasan dan cita-cita. [ian/ds]

