MediaKontras.id | Kekerasan terhadap anak di Aceh dinilai semakin meningkat dan perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak baik itu Pemerintah Daerah maupun Pemprov Aceh menyikapi fenomena tersebut secara cepat.
Direktur Perlindungan Anak Forum Peduli Rakyat Miskin (FPRM) Aceh, Risqiqa Aulia, kepada MediaKontras.id, Minggu, 27 September 2026, menegaskan kekerasan terhadap anak tidak hanya dilihat dari luka fisik semata, melainkan dampak mental yang jauh lebih penting untuk direhabilitasi.
Oleh karenanya, kekerasan terhadap anak tidak hanya dilihat dari korban fisiknya semata, melainkan korban mental yang jauh lebih penting untuk direhabilitasi. Luka fisik bisa sembuh, tapi trauma mental bisa membekas seumur hidup.
Ia menyoroti kasus terakhir yang terjadi melibatkan seorang pelajar di Banda Aceh, dimana pelakunya juga masih anak-anak. Hal ini membuktikan bahwa anak-anak saat ini sangat membutuhkan dampingan psikolog.
–Desak Pemerintah Datangkan Psikolog–
Untuk itu, Risqiqa mendesak Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota agar segera mendatangkan tim psikolog ke sekolah-sekolah, bahkan hingga ke kampus-kampus yang ada di Aceh.
Menurutnya, kehadiran psikolog sangat penting untuk deteksi dini terhadap kondisi mental anak dan remaja yang selama ini luput dari perhatian.
“Pemerintah perlu mendatangkan tim psikolog di sekolah-sekolah, bahkan di kampus-kampus. Jangan tunggu kasus kekerasan meledak baru kita bertindak. Banyak anak yang bermasalah secara mental, menjadi korban bullying, tekanan keluarga, hingga pergaulan bebas, tapi tidak ada tempat untuk bercerita,” paparnya.
Ia menjelaskan, banyak pelaku kekerasan anak yang ternyata merupakan korban dari lingkungan sebelumnya dan menyimpan luka batin yang tidak pernah ditangani secara profesional.
Kalau di setiap sekolah ada psikolog, anak bisa curhat, bisa konseling. Guru Bimbingan Konseling (BK) saja tidak cukup, perlu tenaga profesional psikolog. Begitu juga di kampus, mahasiswa juga rentan mengalami stres, depresi, hingga menjadi pelaku kekerasan.
FPRM Aceh berharap Dinas Pendidikan Aceh dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) dapat segera membuat program terpadu dengan menghadirkan layanan psikolog gratis di dunia pendidikan.
“Investasi untuk kesehatan mental anak adalah investasi untuk masa depan Aceh. Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh dengan luka mental yang tidak pernah diobati,” tandasnya. [ian]

