Kisah Abi Panton, Pemburu Naskah Kuno Aceh yang Rela Keliling Mesir Demi Selamatkan Kitab Jawi

Kisah Abi Panton, Pemburu Naskah Kuno Aceh yang Rela Keliling Mesir Demi Selamatkan Kitab Jawi

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp MediaKontras.ID

Kebudayaan bukan sekadar peninggalan fisik berupa bangunan atau artefak museum yang diam. Kebudayaan yang hidup adalah memori kolektif yang terus dialirkan dari generasi ke generasi-termasuk melalui lembaran naskah dan aksara. Di Aceh, salah satu pilar terbesar peradaban tersebut tersimpan rapat dalam ribuan kitab beraksara Arab Melayu (Jawi).

Namun, di tengah arus modernisasi, aksara Jawi kian terdesak ke pinggiran. Banyak naskah klasik karya ulama terdahulu terancam lapuk, rusak, bahkan hilang dari ingatan publik. Di titik krusial inilah sosok T. Halim Tarmizi bin T. Bustami, atau yang akrab disapa Abi Panton, mengambil peran penting sebagai penjaga ingatan kebudayaan Islam Nusantara.

Aksara Jawi: Bahasa Diplomat dan Ilmu Kebudayaan Melayu

Sejak memulai ikhtiar penyelamatannya pada tahun 2018, Abi Panton melihat bahwa kitab Arab Melayu bukan sekadar dokumen keagamaan. Aksara Jawi adalah lingua franca intelektual yang pernah menyatukan gagasan di seluruh kawasan Nusantara.

Melalui penelusuran naskah hingga ke Malaysia, Pattani (Thailand Selatan), dan Mesir, terkuak betapa luasnya jaringan epistemik ulama Aceh. Aksara Jawi menjadi jembatan diplomasi pemikiran yang menghubungkan Tanah Rencong dengan Haramain, Minangkabau, Palembang, hingga Banjar.

Penjaga Identity: Aksara Jawi merekam cara berpikir (worldview) masyarakat Nusantara dalam memadukan keislaman dan kearifan lokal.

Perekat Epistemik: Menjadi media komunikasi ilmiah lintas kesultanan di Asia Tenggara jauh sebelum konsep negara modern lahir.

Menembus Lorong Waktu Melalui Tahqiq dan Rekonstruksi

Upaya Abi Panton menyusun ulang dan menyalin kembali sekitar 45 karya – dengan 20 judul di antaranya siap terbit bukanlah sekadar pekerjaan akademis kering. Ini adalah aksi penyelamatan kebudayaan (cultural rescue).

Ketika satu lembar manuskrip kuno berhasil diselamatkan dan dicetak ulang, satu mata rantai sejarah yang hampir putus berhasil disambung kembali. Generasi hari ini tidak hanya membaca teks hukum atau tasawuf, tetapi juga menghirup kembali atmosfer kebudayaan masa lalu yang kaya akan adab dan kedalaman ilmu.

“Kitab Arab Melayu bukan hanya tulisan lama, tetapi jembatan ilmu antara Ulama Nusantara dan dunia Islam.”

Abi Panton: Merawat Masa Depan Peradaban Aceh

Menjaga warisan kitab kuning dan manuskrip Jawi adalah upaya memastikan bahwa Aceh dan Nusantara tidak mengidap “amnesia sejarah”. Perjuangan sunyi yang dilakukan Abi Panton dari Panton Labu ini mengingatkan kita semua peradaban yang besar tidak dibangun dari meratapi kejayaan masa lalu, melainkan dari keberanian merawat dan meneruskan cahaya ilmu para pendahulu ke masa depan.