Lewati ke konten

Mengubah Pengalaman Luka Menjadi Kebijakan Nyata: Sebuah Refleksi pada Peringatan World Mental Health 2026

Rapian Rapian 10 Oktober 2026 · 08:39 WIB
Bagikan
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp MediaKontras.ID
Gabung

Oleh : Dedy Surya, M.Psi.

(Ketua Program Studi Psikologi Islam IAIN Langsa)

SETIAP tanggal 10 Oktober, kita kembali dihadapkan pada peringatan World Mental Health (Hari Kesehatan Mental Sedunia). Pada tahun 2026 ini, World Federation for Mental Health (Federasi Kesehatan Mental Dunia) mengusung tema yang sangat tajam dan reflektif: “Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change” (Pengalaman Nyata yang Didengar: Suara Nyata, Perubahan Nyata). Tema ini bukanlah sekadar jargon kampanye tahunan, melainkan sebuah kritik keras terhadap bagaimana kita merespons isu kesehatan mental selama ini.

Sering kali, ruang diskusi kita didominasi oleh asumsi, bahasa nirempati yang dingin, bahkan yang parahnya dalam bentuk penghakiman moral. Sementara itu, suara dan pengalaman langsung dari mereka yang benar-benar hidup sebagai para penyintas kesehatan mental justru dipinggirkan, dibungkam, atau sekadar direduksi menjadi deretan statistik.

Jika kita merefleksikan tema ini pada rentetan kasus yang terus mengoyak nurani publik di Indonesia belakangan ini, urgensinya menjadi sangat tak terbantahkan. Ingatan kolektif kita belum sepenuhnya pulih dari tragedi memilukan hilangnya nyawa seorang dokter muda peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Semarang akibat pusaran perundungan struktural, jam kerja tak masuk akal, dan tekanan senioritas yang berbalut tradisi pendidikan. Kita juga dipukul telak oleh rentetan kasus mahasiswa di berbagai kota besar di Indonesia yang terpaksa mengakhiri hidup akibat himpitan beban akademik, ekspektasi keluarga, dan isolasi sosial.

Dalam lingkungan terpelajar sekalipun, institusi kerap merespons dengan telinga yang tuli. Jeritan para korban diabaikan dan dengan mudah dilabeli sebagai keluhan generasi yang “manja”, “lemah”, atau “kurang daya juang”. Evaluasi sistemik sering kali baru dilakukan secara reaktif setelah nyawa melayang, seolah-olah suara mereka baru dianggap valid ketika mereka sudah terbaring dalam kesunyian.

Realitas pahit yang sama juga menggema kencang di luar tembok akademik, menyasar ruang-ruang sosial-ekonomi dan domestik masyarakat kita. Kita tidak bisa menutup mata terhadap tren tragis kasus bunuh diri di kalangan pekerja atau kepala keluarga yang dipicu oleh jeratan predator pinjaman online (pinjol) ilegal.

Tekanan ekonomi ekstrem yang diperparah oleh teror psikologis sering kali mendorong seseorang hingga ke batas akhir kewarasannya. Di sudut lain, kita juga menyaksikan jeritan sunyi para ibu yang berjuang sendirian melawan depresi pascamelahirkan (postpartum depression).

Dalam kasus-kasus ini, para korban sejatinya telah memancarkan “suara nyata” tentang ketiadaan jaring pengaman sosial, himpitan hidup yang eksploitatif, dan minimnya dukungan orang terdekat. Sayangnya, alih-alih diulurkan tangan, masyarakat justru menghakimi mereka sebagai individu yang kurang iman, tidak sabar, atau tidak pandai bersyukur. Penderitaan mereka dipandang sebelah mata dan dibiarkan menumpuk hingga akhirnya meledak menjadi tragedi.

Semangat “Real Voices, Real Change” menantang kita untuk membongkar arogansi struktural semacam itu. Mendengarkan pengalaman nyata berarti mengakui bahwa mereka yang sedang bergelut dengan masalah kesehatan mental adalah pakar atas realitas yang mereka jalani sendiri. Pengalaman luka mereka adalah landasan yang paling valid untuk merumuskan perbaikan.

Membenahi lingkungan kerja, merombak budaya akademik kampus, hingga menyusun kebijakan publik tidak bisa lagi hanya mengandalkan teori dari atas ke bawah. Kebijakan tersebut harus berakar dari narasi mereka yang pernah berada di titik terendah. Sudah saatnya kita beralih dari kepedulian yang sekadar performatif di media sosial menuju penciptaan ruang aman yang sesungguhnya, tempat di mana seseorang bisa jujur tentang penderitaannya tanpa takut kehilangan pekerjaan, diancam, dikeluarkan dari program studi, atau dihakimi ibadahnya.

Pada akhirnya, perubahan yang nyata tidak akan pernah terwujud tanpa kesediaan mutlak kita untuk mendengarkan suara-suara yang selama ini diabaikan. Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia ini harus menjadi momentum bagi institusi pemerintah, tempat kerja, kampus, hingga lingkaran keluarga terdekat untuk merendahkan ego dan mulai menajamkan empati.

Mari kita berhenti mendikte bagaimana seseorang seharusnya merasa, dan mulailah memvalidasi apa yang sebenarnya mereka rasakan. Selamat memperingati World Mental Health, 10 Oktober 2026. Mari wujudkan perubahan nyata dengan menyediakan telinga dan hati kita, karena satu suara yang sungguh-sungguh didengar bisa jadi adalah satu nyawa yang berhasil diselamatkan.

 

 

Bagikan