MediaKontras.id | Di tengah terik siang 1 Mei 2026, sekelompok massa berkumpul dengan membawa spanduk dan poster berisi pesan-pesan tuntutan. Bagi mereka, May Day bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum untuk merefleksikan kondisi hidup yang mereka anggap semakin menantang.
Dalam pernyataan sikap yang dibacakan, massa menyoroti persoalan ketimpangan ekonomi, akses terhadap layanan publik, hingga kebijakan ketenagakerjaan. Mereka memandang bahwa berbagai persoalan yang dihadapi buruh, petani, dan masyarakat berpenghasilan rendah merupakan bagian dari tantangan struktural yang memerlukan perhatian serius dari pemerintah.
Isu korupsi dan tata kelola pemerintahan juga menjadi sorotan. Massa menilai praktik korupsi masih menjadi hambatan dalam upaya pemerataan kesejahteraan. Selain itu, kebijakan fiskal seperti pajak dan harga kebutuhan pokok dinilai berdampak langsung pada daya beli masyarakat.
Di sektor ketenagakerjaan, massa menyinggung persoalan upah dan kepastian kerja. Sementara itu, petani disebut masih menghadapi fluktuasi harga hasil panen yang tidak sebanding dengan biaya produksi. Kondisi tersebut, menurut mereka, diperparah oleh tekanan ekonomi dan perubahan lingkungan.
Secara khusus, massa juga menyinggung sejumlah isu di Aceh, seperti keberlanjutan program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) dan penyelesaian rekonstruksi pascabencana yang dinilai belum tuntas. Mereka berharap pemerintah daerah dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam penyelesaian program-program tersebut.
Selain itu, isu ruang sipil dan peran aparat negara turut disorot. Massa mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara stabilitas dan perlindungan kebebasan sipil dalam kehidupan demokrasi.
Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan sejumlah tuntutan, antara lain evaluasi terhadap regulasi ketenagakerjaan, peningkatan lapangan kerja, akses pendidikan yang lebih luas, serta pengendalian harga kebutuhan pokok. Mereka juga mendorong kebijakan yang lebih berpihak pada perlindungan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Bagi sebagian peserta aksi, May Day tahun ini menjadi ruang untuk menyuarakan harapan – bahwa di tengah berbagai tantangan, dialog antara masyarakat dan pemerintah tetap terbuka. Mereka percaya, perubahan kebijakan yang lebih inklusif dapat menjadi jalan menuju kesejahteraan yang lebih merata.
Â

Â
Aksi berlangsung dengan pengawalan aparat keamanan dan berjalan relatif tertib. Sejumlah perwakilan massa menyatakan bahwa penyampaian aspirasi ini diharapkan dapat menjadi masukan konstruktif bagi pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah.






