Aceh Tamiang | Mediakontras.Id — Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) IAIN Langsa menunjukkan kiprah aktifnya dalam kegiatan Pengabdian Masyarakat Internasional bertajuk Trauma Healing Pascabencana Tamiang, yang dilaksanakan pada Jumat, 1 Mei 2026 di Desa Benua Raja, Kabupaten Aceh Tamiang.
Kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi antara IAIN Langsa dan Persatuan Kaunselor Pendidikan Malaysia (PEKA), yang berfokus pada pemulihan kondisi psikologis masyarakat terdampak bencana melalui pendekatan trauma healing.
Dalam kegiatan tersebut, Prodi SPI tampil sebagai salah satu unsur strategis yang terlibat langsung di lapangan. Ketua Prodi SPI, Dr. Muslem, M.A., hadir memimpin partisipasi prodi, didampingi dosen Taufiq Kurniawan, M.A. Keterlibatan mahasiswa juga menjadi kekuatan utama, di antaranya Presiden Mahasiswa IAIN Langsa Afsal Sabil yang merupakan mahasiswa SPI, Ketua Himpunan Mahasiswa SPI Rizky Fadilah, serta mahasiswa Raihan Bahri dan Safriatun Husna.
Partisipasi aktif mahasiswa SPI terlihat dalam berbagai kegiatan pendampingan masyarakat, khususnya dalam membangun interaksi sosial yang suportif dan edukatif, sekaligus menciptakan suasana yang kondusif bagi proses pemulihan trauma masyarakat terdampak.
Kegiatan ini difasilitasi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa bersama Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD). Turut hadir Dekan FUAD Dr. Mawardi, M.Si., dan Wakil Dekan I Dr. Arief Muammar, serta seluruh program studi di lingkungan fakultas, yakni KPI, IAT, IH, BKI, PPI, dan Psikologi.
Ketua Prodi SPI, Dr. Muslem, M.A., menegaskan bahwa keterlibatan ini merupakan implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat.
“SPI tidak hanya hadir sebagai bagian dari institusi, tetapi juga berperan aktif dalam membangun empati, solidaritas, dan kontribusi nyata di tengah masyarakat pascabencana,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Prodi SPI IAIN Langsa semakin mempertegas posisinya sebagai program studi yang tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga responsif terhadap isu-isu kemanusiaan dan sosial, serta aktif dalam jejaring kolaborasi internasional.
Kegiatan ini diharapkan memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat Aceh Tamiang, sekaligus menjadi pengalaman lapangan yang berharga bagi mahasiswa dalam memahami realitas sosial secara langsung.






