Lewati ke konten

Saat Langit Langsa Kehilangan Warna Jingganya: Asa Warga di Bawah Selimut Asap Karhutla

Rapian Rapian 15 Oktober 2026 · 14:37 WIB
Bagikan
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp MediaKontras.ID
Gabung

PAGI hari di Kota Langsa tak lagi menyambut langit jingga yang hangat dari sorotan sang fajar, melainkan gulungan abu-abu yang menyesakkan dada. Saat jarum jam menunjukkan pukul tujuh pagi, Rahayu sudah bersiap memanaskan sepeda motor yang akan menemaninya dalam perjalanan pulang kampung.

Namun, alih-alih menghirup udara segar dalam perjalanan, pandangan matanya tertutupi oleh kabut-kabut yang menghalanginya menatap langit biru.

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menjalar dari wilayah sekitarnya kini telah sampai di Kota Langsa.

Pemandangan samar di jalanan ini sejalan dengan catatan resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pihak BMKG memprediksi cuaca Indonesia untuk periode 13–19 Oktober 2026 menunjukkan masa kekeringan yang belum usai, meskipun potensi hujan lebat masih membayangi di sejumlah wilayah.

Melalui situs resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan bahwa berdasarkan pemantauan pada 11 Oktober 2026, keberadaan titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi masih teridentifikasi di sejumlah wilayah, antara lain Jambi (16 titik), Sumatera Selatan (234 titik), Kepulauan Bangka Belitung (23 titik), Lampung (19 titik), Kalimantan Barat (71 titik), Kalimantan Tengah (213 titik), Kalimantan Timur (30 titik), Kalimantan Selatan (15 titik), Maluku Utara (15 titik), dan Papua Selatan (482 titik).

Gambaran besarnya terungkap dalam laporan resmi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, kepada Presiden Prabowo pada Senin (12/10/2026). Dalam pemaparannya mengenai perkembangan terkini penanganan karhutla, BNPB mencatat bahwa saat ini total luas lahan yang masih berada dalam proses pemadaman intensif di enam provinsi prioritas telah mencapai 639,23 hektare.

Di tengah ancaman asap yang kian menebal ini, kecemasan mulai menyusup ke ruang-ruang keluarga. Ancaman sepinya sudut-sudut ruang kelas kini membayangi para orang tua, salah satunya Mellinda. Sebagai seorang ibu, ia sangat mengkhawatirkan keselamatan dan kesehatan buah hatinya.

​”Ini kalau kabutnya makin parah, takutnya anak sekolah dialihkan menjadi pembelajaran secara daring lagi,” ujarnya raut penuh harap agar langit segera kembali bersih.

​Kini, jutaan warga dari pelosok daerah hingga pusat kota menaruh asa yang sama. Mereka berharap agar gerak cepat penanganan di lapangan segera memadamkan setiap jilatan bara api, menghentikan kepulan asap beracun, dan membawa Indonesia kembali menjadi negeri yang sehat, tempat di mana anak-anak dapat tertawa bebas di halaman sekolah, dan sang fajar bisa kembali menyapa dengan kehangatan warna jingga yang jernih.

Oleh : Desi Junianda Mawarni (Mahasiswa IAIN Langsa).

Bagikan