Oleh: Muhammad Farhan Gymnastiar
Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Banyak organisasi memiliki program kerja yang baik, tetapi tidak semuanya mampu menjalankannya secara optimal. Penyebabnya sering kali bukan karena lemahnya perencanaan, melainkan karena budaya organisasi yang tidak sehat. Peter Drucker pernah mengatakan, “Culture eats strategy for breakfast.” Pesan ini mengingatkan bahwa keberhasilan organisasi lebih banyak ditentukan oleh budaya yang dibangun daripada strategi yang hanya tersusun rapi di atas kertas.
Organisasi pada hakikatnya adalah kumpulan manusia dengan latar belakang, karakter, dan cara berpikir yang berbeda. Karena itu, memimpin organisasi bukan sekadar mengatur pekerjaan, tetapi juga membangun hubungan yang sehat di antara para anggotanya. Pemimpin dituntut mampu menyeimbangkan ketegasan dengan pendekatan yang humanis sehingga setiap anggota merasa dihargai, didengar, dan memiliki ruang untuk berkembang.
Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan Simon Sinek bahwa kepemimpinan bukan tentang memiliki kekuasaan, melainkan tentang merawat orang-orang yang dipimpin. Ketika anggota merasa diperhatikan, loyalitas tidak tumbuh karena jabatan, tetapi karena kepercayaan kepada pemimpinnya.
Budaya organisasi yang baik seharusnya sudah dibangun sejak proses rekrutmen dan pembentukan struktur kepengurusan. Pemilihan pimpinan tidak cukup hanya didasarkan pada kemampuan berbicara saat wawancara, tetapi juga harus mempertimbangkan rekam jejak, integritas, tanggung jawab, kemampuan berkomunikasi, dan kesiapan memimpin. Seorang pemimpin adalah wajah organisasi sekaligus teladan bagi anggotanya.
Prinsip tersebut selaras dengan ajaran Ki Hajar Dewantara, Ing Ngarsa Sung Tuladha, bahwa pemimpin harus mampu menjadi contoh. Keteladanan jauh lebih efektif daripada sekadar memberikan instruksi. Disiplin, tanggung jawab, serta kesediaan hadir ketika organisasi menghadapi kesulitan akan membangun kepercayaan anggota.
Selain kompetensi teknis, para pimpinan juga perlu memahami kebutuhan anggotanya. Tidak semua orang bergabung dalam organisasi dengan tujuan yang sama. Ada yang ingin mengembangkan kemampuan, memperluas jaringan, mencari pengalaman, atau sekadar menemukan lingkungan yang nyaman di tengah kesibukan akademik. Organisasi yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut akan lebih mudah mempertahankan anggotanya.
Karena itu, membangun chemistry dan sense of belonging seharusnya dilakukan sejak awal masa kepengurusan, bukan menjelang akhir sebagai acara perpisahan. Kegiatan sederhana seperti makan bersama, berdiskusi santai, berolahraga, atau kegiatan nonformal lainnya dapat menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarpengurus. Kedekatan yang terbangun di luar forum resmi sering kali mempermudah komunikasi ketika menghadapi pekerjaan organisasi.
Budaya evaluasi juga menjadi bagian penting dalam kepemimpinan. Bill Gates pernah menegaskan bahwa setiap orang membutuhkan umpan balik agar dapat berkembang. Kritik yang disampaikan secara konstruktif bukan ancaman, melainkan sarana untuk memperbaiki diri. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang memberikan ruang bagi anggotanya untuk menyampaikan pendapat tanpa rasa takut.
Tidak dapat dimungkiri, setiap organisasi akan menghadapi anggota yang mulai pasif atau bahkan meninggalkan aktivitas organisasi. Dalam situasi seperti ini, pendekatan personal jauh lebih efektif daripada menyalahkan. Pemimpin perlu mendengarkan, memahami kondisi anggotanya, serta mencari akar persoalan sebelum mengambil kesimpulan. Sikap empati inilah yang akan memperkuat rasa memiliki terhadap organisasi.
Nilai-nilai tersebut juga tercermin dalam Pedoman Perkaderan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang menekankan pentingnya integritas, keseimbangan, persamaan, kasih sayang, dan keteladanan. Anggota tidak diposisikan sekadar sebagai pelaksana program kerja, tetapi sebagai bagian dari keluarga besar organisasi.
John C. Maxwell mengingatkan bahwa seseorang tidak akan peduli pada seberapa banyak pengetahuan pemimpinnya sebelum ia merasakan kepedulian dari pemimpin tersebut. Kepedulian yang nyata akan melahirkan kepercayaan, sedangkan kepercayaan menjadi fondasi lahirnya loyalitas.
Namun demikian, nilai kekeluargaan tidak boleh menghilangkan ketegasan. Organisasi tetap membutuhkan sistem evaluasi yang objektif. Pemimpin yang tidak menjalankan tanggung jawab, menghambat organisasi, atau memberi contoh buruk harus dibina, bahkan jika diperlukan diganti demi menjaga keberlangsungan organisasi. Ketegasan bukanlah bentuk hukuman, melainkan tanggung jawab untuk menjaga kualitas organisasi.
Pada akhirnya, organisasi yang memanusiakan anggotanya akan memiliki ikatan yang lebih kuat daripada organisasi yang hanya berorientasi pada penyelesaian program kerja. Richard Branson pernah mengatakan, “Take care of your employees, and they will take care of your business.” Dalam konteks organisasi mahasiswa, pesan tersebut bermakna bahwa ketika anggota diperlakukan dengan penuh penghargaan dan rasa kekeluargaan, mereka akan menjaga organisasi dengan sepenuh hati. Dari sanalah lahir sense of belonging yang membuat organisasi tidak hanya berhasil mencapai target, tetapi juga mampu mewariskan budaya yang sehat, harmonis, dan berkelanjutan bagi generasi berikutnya.






