MediaKontras.id | Universitas Samudra (Unsam) menggelar Kuliah Tamu dan Bedah Buku Aceh Melepas Belenggu: Mengubah Paradoks Negeri Kaya yang Belum Makmur. Kegiatan ini menjadi forum akademik yang mempertemukan mahasiswa, dosen, akademisi, dan pemangku kepentingan untuk mendiskusikan berbagai tantangan, peluang, serta strategi pembangunan Aceh menuju daerah yang lebih maju, mandiri, berdaya saing, dan sejahtera, di Gedung Multiguna Unsam, Kamis, 4 Juni 2026 kemarin.
Kegiatan dibuka oleh Rektor Unsam, Prof. Dr Ir Hamdani, MT, turut hadir sebagai narasumber penulis buku Aceh Melepas Belenggu, Safuadi, ST, MSc, Ph.D, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Aceh dan dipandu oleh Dr. Martahadi, M.Si, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsam.
Prof. Hamdani menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mendorong pembangunan daerah melalui penguatan sumber daya manusia, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor.
Menurutnya, Aceh memiliki berbagai potensi strategis yang dapat menjadi modal pembangunan, namun diperlukan kemampuan untuk mengenali peluang serta mengelolanya secara efektif agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Kita perlu melihat berbagai peluang yang ada, memahami kebutuhan di berbagai sektor, dan memastikan sumber daya manusia yang kita miliki mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Aceh. Perguruan tinggi harus menjadi bagian dari solusi melalui penguatan kapasitas, inovasi, dan kolaborasi,” ujar Prof. Hamdani.
Ketua Panitia, Dr. Banta Cut, ST, MT, yang juga menjabat sebagai Kepala UPA Pengembangan Karier dan Kewirausahaan Universitas Samudra, menjelaskan bahwa kegiatan ini menghadirkan lima pembedah buku dari unsur akademisi dan pemerintah daerah guna memperkaya perspektif dalam membahas pembangunan Aceh.
Para pembedah tersebut adalah Dr. Muhammad Rizal, M.Si., Kepala Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran Universitas Samudra; Sari Yulis, S.H.I., MH, dosen Fakultas Hukum Universitas Samudera; Riza Fahlevi, AP, M.SP, Kepala Bappeda Kota Langsa; Ir. Kahal Fajri, ST, MT, IPM, Kepala Bappeda Kabupaten Aceh Timur; serta Ir. Muhammad Zein, Kepala Bappeda Kabupaten Aceh Tamiang. Kehadiran para pembedah memberikan pandangan yang beragam mengenai tata kelola pembangunan, pengembangan potensi daerah, dan tantangan yang dihadapi Aceh saat ini.
Dalam pemaparannya, Safuadi menyoroti paradoks pembangunan Aceh sebagai daerah yang kaya sumber daya alam dan memiliki posisi strategis di kawasan barat Indonesia, namun belum sepenuhnya mampu mengonversi potensi tersebut menjadi kesejahteraan masyarakat.
“Persoalan utama Aceh bukan karena kekurangan sumber daya, melainkan bagaimana sumber daya yang dimiliki dapat dikelola secara optimal dan menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat. Potensi yang besar harus diikuti dengan tata kelola, inovasi, dan produktivitas yang kuat,” ujar Safuadi.
Melalui buku Aceh Melepas Belenggu, Safuadi menawarkan gagasan transformasi pembangunan yang menitikberatkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, hilirisasi industri, penguatan inovasi, serta kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat.
Menurutnya, pendekatan tersebut penting untuk mendorong perubahan dari pola pembangunan yang selama ini bertumpu pada eksploitasi sumber daya menuju pembangunan berbasis produktivitas, kreativitas, dan penciptaan nilai tambah.
“Sudah saatnya Aceh tidak hanya dikenal sebagai penghasil bahan mentah. Kita harus mampu mengembangkan industri pengolahan, menciptakan lapangan kerja yang berkualitas, meningkatkan daya saing ekonomi, dan menghadirkan kesejahteraan yang berkelanjutan bagi masyarakat,” tegasnya.
Konsep “melepas belenggu” yang diangkat dalam buku tersebut merupakan ajakan untuk membebaskan Aceh dari berbagai hambatan struktural yang selama ini menghambat percepatan pembangunan. Dengan memanfaatkan potensi daerah secara lebih efektif dan berorientasi pada inovasi, Aceh diyakini memiliki peluang besar untuk tumbuh sebagai daerah yang lebih maju, mandiri, dan kompetitif.
Melalui kegiatan ini, Universitas Samudera menegaskan komitmennya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan ruang pertukaran gagasan strategis yang berkontribusi terhadap pembangunan daerah. Antusiasme peserta yang tinggi menunjukkan besarnya perhatian sivitas akademika terhadap masa depan Aceh serta pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak bagi masyarakat. [ian]






