Aceh Utara, MediaKontras.id | Dari Rumah Pahlawan Nasional Cut Meutia di Desa Mesjid Pirak, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara, eks kombatan GAM/KPA Wilayah Pase Syaridin bersama masyarakat menyerukan agar perdamaian Aceh tidak kembali dirusak oleh provokasi dan kepentingan yang berpotensi memecah persatuan.
Seruan tersebut akan menjadi pesan utama dalam agenda silaturahmi, doa bersama dan santunan anak yatim/piatu yang digelar Sabtu (15/8/2026), bertepatan dengan momentum HUT ke-81 Republik Indonesia sekaligus Hari Damai Aceh.
Kegiatan itu tidak sekadar menjadi seremoni peringatan. Rumah Cut Meutia dipilih sebagai ruang refleksi untuk menegaskan bahwa setelah lebih dari dua dekade perdamaian Aceh, perjuangan masyarakat kini harus diarahkan pada menjaga persatuan, memperkuat perdamaian dan memastikan pembangunan benar-benar memberi manfaat bagi rakyat.
KPA Wilayah Pase mengingatkan masyarakat Aceh Utara agar tidak mudah terseret narasi provokatif, termasuk yang muncul dari kelompok-kelompok yang mengatasnamakan GAM di luar negeri maupun ASNLF.
“Perdamaian Aceh harus menjadi kepentingan bersama, bukan ruang untuk dipertarungkan kembali,” demikian pesan yang akan disampaikan KPA Wilayah Pase dalam kegiatan tersebut.
Dari rumah yang menyimpan jejak perjuangan Cut Meutia itu, para eks kombatan juga mengajak masyarakat mengenang para pahlawan dan pendahulu yang telah gugur. Perjuangan masa lalu dinilai tidak cukup hanya dikenang, tetapi perlu diterjemahkan dalam bentuk menjaga perdamaian dan membangun Aceh.
“Mari kita panjatkan doa semoga perdamaian Aceh selalu terjaga demi Aceh yang maju, bermartabat dan sejahtera,” demikian pesan KPA Wilayah Pase.
Masyarakat juga didorong mendukung program pembangunan yang dijalankan Pemerintah Aceh, pemerintah kabupaten/kota maupun pemerintah pusat sepanjang berorientasi pada percepatan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan rakyat.
Kepedulian sosial turut menjadi bagian dari agenda tersebut melalui santunan kepada anak yatim/piatu. Pesan yang hendak dibangun jelas: perjuangan generasi hari ini bukan lagi melalui konflik bersenjata, melainkan melalui upaya mempertahankan perdamaian, menolak provokasi dan memastikan kesejahteraan masyarakat Aceh terus meningkat.
