Tokoh Beutong Ateuh Banggalang Tegaskan Penolakan Tambang di Tengah Polemik Investasi Rp200 Triliun

Tokoh Beutong Ateuh Banggalang Tegaskan Penolakan Tambang di Tengah Polemik Investasi Rp200 Triliun

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp MediaKontras.ID

Warga Beutong Ateuh Banggalang Tegaskan Penolakan Tambang

Nagan Raya, MediaKontras.id | Dukungan yang disampaikan sebagian pengurus Ikatan Pelajar Mahasiswa Nagan Raya (IPELMASRA) Banda Aceh di bawah kepemimpinan Muhammad Irsal Mumtazal terhadap rencana investasi Rp200 triliun di Kabupaten Nagan Raya menuai kritik dari masyarakat Beutong Ateuh Banggalang, sejumlah kader IPELMASRA, dan tokoh masyarakat setempat.

Mereka menilai dukungan tersebut tidak dapat dianggap sebagai representasi seluruh mahasiswa Nagan Raya maupun seluruh kader IPELMASRA, karena masih terdapat perbedaan pandangan yang berkembang di internal organisasi dan di tengah masyarakat.

Demisioner IPELMASRA sekaligus Pemuda Beutong Ateuh Banggalang, Ismik, menyampaikan masyarakat tidak percaya terhadap narasi sebagian pengurus IPELMASRA yang menyebut investasi diperlukan agar masyarakat tidak menjadi penonton di daerahnya sendiri.

Menurut Ismik, masyarakat Beutong Ateuh Banggalang telah berulang kali menolak investasi pertambangan di wilayah mereka. Karena itu, pernyataan dukungan sebagian pengurus IPELMASRA justru bertentangan dengan aspirasi warga yang terdampak langsung.

“Kami tidak percaya dengan narasi yang dibangun seolah-olah masih memikirkan kepentingan masyarakat. Jika benar ingin mendengar masyarakat, maka dengarkan suara masyarakat Beutong Ateuh Banggalang yang sejak awal telah menolak investasi pertambangan di wilayah ini,” ujar Ismik.

Ia menjelaskan, masyarakat selama ini hidup dari hasil alam yang dikelola turun-temurun. Komoditas kemiri dipanen setiap hari dan dijual tiap bulan dengan nilai ekonomi cukup besar. Selain itu, masih banyak hasil alam lain yang dinilai mampu memberi kesejahteraan tanpa mengorbankan lingkungan.

Karena itu, masyarakat lebih memilih mempertahankan sumber kehidupan yang terbukti memberi manfaat nyata, dibanding menerima investasi yang berpotensi mengancam ruang hidup dan keberlanjutan lingkungan.

Ismik juga meminta pihak yang mendukung investasi tidak membawa nama seluruh mahasiswa Nagan Raya maupun seluruh kader IPELMASRA. Menurutnya, di internal organisasi banyak kader dan mahasiswa yang menolak rencana investasi tersebut.

“Jangan membawa nama mahasiswa Nagan Raya atau IPELMASRA secara keseluruhan. Faktanya, sebagian kader dan mahasiswa sangat jelas menolak investasi pertambangan di Beutong Ateuh Banggalang. Bahkan perbedaan pandangan di internal organisasi hingga saat ini masih menjadi perdebatan,” katanya.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua I IPELMASRA Banda Aceh, Teungku Syah Maulana Hilal. Ia mengingatkan agar tidak ada pihak yang mengklaim sikap organisasi secara sepihak.

Menurut Hilal, perbedaan pandangan adalah realitas di tubuh IPELMASRA. Karena itu tidak tepat jika dukungan sebagian pengurus dianggap sebagai sikap seluruh kader dan mahasiswa.

“Jangan sesekali membawa nama IPELMASRA secara keseluruhan. Ada kader yang mendukung dan ada yang menolak. Perbedaan itu harus dihormati. Organisasi tidak boleh digunakan untuk mengklaim bahwa seluruh mahasiswa memiliki pandangan yang sama,” tegas Hilal dalam siaran pers pada hari kamis, (11/06/2026).

Ismik menambahkan, jika sebagian pengurus IPELMASRA memilih mendukung investasi, itu hak mereka. Namun masyarakat yang menolak juga harus diberi ruang yang sama untuk menyampaikan pendapat tanpa intimidasi maupun serangan pribadi.

Ia juga mengingatkan agar tidak ada pihak yang mencampuri urusan masyarakat Beutong Ateuh Banggalang dalam mempertahankan wilayah yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan lingkungan penting. Kawasan tersebut dikenal rentan bencana, sehingga setiap aktivitas yang mengubah kondisi lingkungan harus dipertimbangkan sangat hati-hati.

Desak IPELMASRA Tegas Berpihak

Tokoh masyarakat Beutong Ateuh Banggalang, Rusli, mengaku kecewa terhadap sikap IPELMASRA saat ini yang dinilainya masih abu-abu dan terkesan menimbang tanpa keberpihakan jelas terhadap aspirasi masyarakat.

Menurut Rusli, organisasi mahasiswa seharusnya tegas ketika berhadapan dengan persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat dan masa depan lingkungan.

Rusli menilai IPELMASRA saat ini berbeda dengan masa kepemimpinan Mutawali dan Jabal Abdul Salam. Pada periode itu, organisasi dinilai lebih dekat dengan aspirasi masyarakat serta lebih berani menyuarakan kepentingan rakyat Nagan Raya.

“Kami melihat perbedaan cukup nyata. IPELMASRA masa Mutawali dan Jabal Abdul Salam dikenal lebih tegas memperjuangkan aspirasi masyarakat. Sementara hari ini organisasi terkesan masih menimbang dan belum menunjukkan sikap jelas,” ujar Rusli.

Masyarakat Beutong Ateuh Banggalang menegaskan, penolakan terhadap investasi pertambangan bukan bentuk penolakan pembangunan. Mereka mendukung pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat, kelestarian lingkungan, dan penghormatan hak masyarakat lokal.

Namun setiap investasi yang masuk harus mendapat persetujuan masyarakat terdampak langsung, bukan diputuskan tanpa mempertimbangkan suara warga.

Sebagai penutup, masyarakat menegaskan dukungan terhadap investasi Rp200 triliun yang disampaikan Muhammad Irsal Mumtazal bersama sejumlah mahasiswa Nagan Raya adalah pandangan kelompok mereka sendiri. Sikap itu tidak mewakili seluruh mahasiswa Nagan Raya, seluruh kader IPELMASRA, maupun masyarakat Beutong Ateuh Banggalang.

“Jika versi yang dipimpin Muhammad Irsal Mumtazal dan diikuti beberapa mahasiswa Nagan Raya adalah mendukung investasi, maka itu hak mereka. Namun jika sebagian mahasiswa Nagan Raya, kader IPELMASRA, serta masyarakat Beutong Ateuh Banggalang memilih menolak investasi pertambangan, maka biarkan mereka menyampaikan penolakannya sesuai keyakinan dan aspirasi yang diperjuangkan. Jangan ada pihak yang mengatasnamakan seluruh mahasiswa maupun masyarakat untuk membenarkan satu pandangan,” tutup pernyataan tersebut.

Topik