Oleh: Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh
(Departemen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh)
Tulisan ini adalah murni analisis antropologis tentang fenomena “Fasisme Prabowo” sebagai analisis akademik-bukan sebagai penilaian moral atau tuduhan personal-dengan menekankan bahwa ini adalah kerangka teoretis, bukan klaim faktual. Silakan tetap konfirmasi informasi politik sensitif dengan sumber tepercaya.
Yang kita lakukan di sini adalah membaca pola-pola komunikasi politik Prabowo melalui lensa teori fasisme (Umberto Eco, Hannah Arendt, dan Robert Paxton), lalu menilai apakah pola itu memiliki kemiripan struktural dengan mekanisme fasisme historis. Ini bukan tuduhan bahwa Prabowo adalah fasis, tetapi analisis tentang apakah retorika tertentu menunjukkan ciri-ciri yang secara teoretis mirip dengan fasisme.
Umberto Eco dalam “Ur-Fascism”, menyebut ada 14 ciri fasisme abadi, antara lain kultus tradisi, penolakan terhadap kritik, penciptaan musuh internal, obsesi dengan pengkhianatan, retorika nasionalisme yang emosional, dan penggunaan bahasa untuk menghapus kompleksitas (Eco, 1995: 7–15).
Hannah Arendt menjelaskan fasisme sebagai penciptaan musuh objektif. Arendt menekankan bahwa rezim totalitarian menciptakan “musuh objektif” yang harus selalu ada untuk memobilisasi massa (Arendt, 1951: 460–465).
Robert Paxton mengkonseptualisasi fasisme sebagai mobilisasi emosi. Paxton menyebut fasisme sebagai gerakan yang memobilisasi emosi melalui rasa terancam, kultus pemimpin, identifikasi musuh internal, glorifikasi kekuatan dan militerisme (Paxton, 2004: 41–45).
Pola retorika Prabowo semuanya dapat dibaca melalui lensa fasisme. Pertama-tama, Prabowo memunculkan musuh internal, “londo ireng”. Istilah londo ireng adalah label yang mengandung sejarah pengkhianatan kolonial. Ketika digunakan untuk jurnalis, pengamat, dan LSM, ia menciptakan musuh internal, pengkhianat bangsa, antek asing. Ini adalah pola yang sangat mirip dengan mekanisme fasisme dalam menciptakan internal enemy (Eco, 1995: 11–13; Arendt, 1951: 460–465).
Pidato Prabowo sering menekankan ancaman disintegrasi, bahaya asing, pentingnya stabilitas, pentingnya loyalitas. Ini adalah pola mobilisasi emosi yang dalam teori Paxton disebut sebagai mobilizing passions (Paxton, 2004: 41–45).
Prabowo tampil sebagai figur bapak bangsa, pelindung, sosok kuat yang “tahu apa yang terbaik”. Dalam antropologi politik, ini adalah bentuk paternalistik populism, yang sering menjadi bagian dari estetika fasisme (Eco, 1995: 12; Kershaw, 2000: 112–115).
Prabowo juga sering menggunakan bahasa untuk menyederhanakan kompleksitas, simplifikasi yang sering digunakan oleh para demagog yang sering berimplikasi bahaya secara politik, moral dan hukum. Istilah seperti londo ireng, antek asing, pengkhianat, tidak nasionalis, adalah contoh bahasa yang menghapus kompleksitas dan mengganti argumen dengan moral condemnation (Goffman, 1963: 3–5). Ini adalah ciri retorika fasis menurut Eco: “Fascist rhetoric eliminates complexity” (Eco, 1995: 14).
Antropologi melihat fasisme sebagai bentuk ekstrem dari othering—penciptaan “yang lain” untuk memperkuat identitas kelompok penguasa (Barth, 1969: 15–18). Istilah londo ireng menciptakan garis batas: kita = rakyat yang loyal, mereka = pengkritik yang dianggap antek asing.
Ibn Khaldun menyebut ashabiyah sebagai solidaritas yang menopang kekuasaan (Ibn Khaldun, 1967: 263–266). Ketika penguasa menstigma pengkritik, mengidentifikasi mereka sebagai pengkhianat, mengusir mereka dari komunitas moral bangsa, maka penguasa sedang memanipulasi ashabiyah demi loyalitas sempit.
Ibn Khaldun menyebut bahwa negara memasuki fase kemunduran ketika solidaritas dimanipulasi untuk kepentingan rezim, bukan kepentingan bangsa (Ibn Khaldun, 1967: 305–308).
Apakah ini berarti Prabowo fasis? Secara akademik, kita harus berhati-hati. Tidak semua pola fasis berarti seseorang adalah fasis. Yang kita analisis adalah kemiripan struktural, bukan identitas ideologis. Fasisme adalah spektrum, bukan kategori biner.
Namun secara teoretis, retorika Prabowo tentang “londo ireng” menunjukkan beberapa ciri yang dalam literatur fasisme dianggap sebagai mekanisme fasis, terutama untuk tujuan penciptaan musuh internal, mobilisasi emosi melalui ancaman, delegitimasi kritik, penggunaan stigma moral, retorika nasionalisme yang simplifikatif.
Ini adalah analisis ilmiah, bukan tuduhan politik.
Bibliografi
Arendt, Hannah. The Origins of Totalitarianism. Harcourt Brace, 1951.
Barth, Fredrik. Ethnic Groups and Boundaries: The Social Organization of Culture Difference. Little, Brown, 1969.
Becker, Howard S. Outsiders: Studies in the Sociology of Deviance. Free Press, 1963.
Eco, Umberto. “Ur-Fascism.” The New York Review of Books, vol. 42, no. 11, 1995, pp. 12–15.
Goffman, Erving. Stigma: Notes on the Management of Spoiled Identity. Prentice-Hall, 1963.
Ibn Khaldun. The Muqaddimah: An Introduction to History. Translated by Franz Rosenthal, Princeton University Press, 1967.
Kershaw, Ian. Hitler: 1936–1945 Nemesis. Penguin, 2000.
Paxton, Robert O. The Anatomy of Fascism. Alfred A. Knopf, 2004.






