Oleh: Muhammad Furqan
(Mahasiswa doktoral DPIPS USK/ Petani Milenial Bireuen)
Kabupaten Bireuen, jika dilihat dalam peta Provinsi Aceh, bukan sekadar daerah yang berada di lintasan pantai timur. Bireuen merupakan salah satu wilayah agraris yang memiliki peran penting dalam menopang kehidupan masyarakat melalui sektor pertanian.
Dengan luas wilayah sekitar 1.795 kilometer persegi, Bireuen terdiri atas 17 kecamatan dan ratusan gampong dengan karakter geografis yang beragam, mulai dari kawasan pesisir, dataran rendah, hingga wilayah pedalaman. Kondisi tersebut menjadikan pertanian, khususnya persawahan, sebagai salah satu sektor strategis bagi perekonomian masyarakat.
Karena itu, pembicaraan mengenai kemajuan Bireuen tidak dapat dilepaskan dari bagaimana pemerintah daerah memberikan perhatian kepada petani. Sebab, ketika petani sejahtera, ekonomi gampong ikut bergerak. Ketika produktivitas meningkat dan hasil panen memperoleh pasar yang baik, daya beli masyarakat tumbuh. Pada akhirnya, peningkatan pendapatan petani memberikan ruang yang lebih besar bagi keluarga untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks tersebut, perhatian Pemerintah Kabupaten Bireuen di bawah kepemimpinan Bupati H. Mukhlis terhadap sektor pertanian menjadi bagian penting yang patut dicermati.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi sektor pertanian, mulai dari biaya produksi, persoalan irigasi, perubahan cuaca, akses pasar, hingga fluktuasi harga komoditas, berbagai upaya perlu terus dilakukan secara konsisten. Pemulihan irigasi, rehabilitasi lahan, modernisasi pertanian, mekanisasi, pendampingan petani, hingga penguatan pemasaran merupakan bagian dari ekosistem yang dibutuhkan untuk membangun pertanian yang produktif dan berkelanjutan.
Petani Tidak Hanya Membutuhkan Bantuan, tetapi Ekosistem
Pada pelantikan Koordinator Kecamatan (Korcam) Tani Merdeka se-Kabupaten Bireuen, Bupati Mukhlis hadir didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bireuen, Mulyadi.
Dalam kesempatan tersebut, perhatian terhadap kesejahteraan petani menjadi salah satu gagasan yang mengemuka. Petani pada dasarnya tidak hanya membutuhkan bantuan sesaat, tetapi membutuhkan ekosistem usaha tani yang memungkinkan mereka berproduksi dengan biaya yang rasional dan memperoleh keuntungan yang layak.
Setidaknya terdapat sejumlah aspek yang perlu menjadi perhatian.
Pertama, pengendalian biaya produksi. Harga pupuk, tenaga kerja, sewa alat dan kebutuhan produksi lainnya sangat menentukan keberlanjutan usaha tani. Semakin tinggi biaya produksi, semakin besar pula tekanan terhadap pendapatan petani.
Kedua, kepastian harga dan pasar. Petani membutuhkan harga jual yang layak agar peningkatan produksi benar-benar berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan.
Ketiga, penguatan akses pasar. Rantai pemasaran yang terlalu panjang dapat mengurangi nilai yang diterima petani. Karena itu, penguatan posisi tawar dan akses langsung terhadap pasar menjadi bagian penting dalam meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian.
Keempat, infrastruktur dan mitigasi risiko pertanian. Irigasi, jalan usaha tani, mekanisasi, diversifikasi komoditas, asuransi pertanian, hingga sistem peringatan dini terhadap bencana merupakan instrumen yang dapat membantu petani menghadapi berbagai risiko.
Kelima, penguatan kelembagaan petani. Kelompok tani, koperasi, maupun organisasi petani harus mampu menjadi ruang konsolidasi agar petani memiliki posisi tawar yang lebih kuat, baik dalam memperoleh sarana produksi maupun dalam memasarkan hasil panen.
Dalam konteks kelembagaan tersebut, dukungan terhadap program Tani Merdeka maupun penguatan kelembagaan petani melalui HKTI yang dipimpin Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Bireuen, Mulyadi, dapat menjadi bagian dari upaya memperluas ruang kolaborasi dan pendampingan bagi petani.
Ketika Petani Bergerak, Ekonomi Gampong Ikut Tumbuh
Pertanian pada dasarnya bukan hanya persoalan sawah dan hasil panen. Di dalamnya terdapat mata rantai ekonomi yang panjang.
Petani membeli pupuk. Petani menggunakan jasa tenaga kerja. Petani menyewa alat pertanian. Hasil panen kemudian dijual kepada pedagang, diproses, didistribusikan, dan dikonsumsi masyarakat.
Artinya, ketika aktivitas pertanian berjalan baik, terdapat banyak sektor ekonomi lain yang ikut bergerak.
Karena itu, membangun pertanian berarti membangun ekonomi masyarakat secara lebih luas.
Saya melihat sejumlah langkah Pemerintah Kabupaten Bireuen melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan yang diarahkan untuk memastikan sawah tetap produktif serta membangun ekosistem pertanian yang lebih lengkap. Mulai dari irigasi, sarana produksi, teknologi dan mekanisasi, pendampingan, akses pembiayaan, pemasaran hasil pertanian hingga upaya meningkatkan nilai tambah komoditas.
Tentu saja, semua kebijakan tersebut membutuhkan konsistensi, evaluasi, dan pengawasan agar manfaatnya benar-benar dirasakan petani.
Petani dan Pemulihan Pascabencana
Persoalan pertanian menjadi semakin penting ketika daerah menghadapi bencana.
Ketika sawah mengalami kerusakan akibat banjir, kegiatan tanam dapat terganggu. Ketika jaringan irigasi mengalami kerusakan, produktivitas lahan ikut terancam. Bahkan, ketika musim tanam terlewat, pendapatan keluarga petani dapat terdampak dalam jangka waktu tertentu.
Dalam konteks pemulihan pascabencana, sektor pertanian karena itu tidak boleh ditempatkan sebagai persoalan sekunder. Pemulihan pertanian merupakan bagian dari pemulihan kehidupan masyarakat.
Saya pernah bersama teman-teman regional dan wilayah BGN yang menangani dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) berdiskusi dengan Bupati Bireuen. Salah satu gagasan yang dibicarakan adalah bagaimana regulasi dan pola kerja sama dapat membuka ruang bagi petani lokal untuk memasok kebutuhan dapur MBG di Bireuen.
Komoditas seperti sayuran, pepaya, pisang, dan berbagai hasil pertanian lokal pada dasarnya memiliki peluang untuk masuk ke dalam rantai pasok tersebut, sepanjang memenuhi kebutuhan kualitas, volume, kontinuitas, keamanan pangan, serta mekanisme pengadaan yang berlaku.
Gagasan seperti ini penting karena menghubungkan dua kepentingan sekaligus: pemenuhan kebutuhan pangan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.
Jika dapat dibangun dengan tata kelola yang baik, dapur MBG bukan hanya menjadi tempat distribusi makanan, tetapi juga dapat menjadi salah satu simpul permintaan terhadap produk petani lokal.
Di sinilah pentingnya keberpihakan kebijakan yang tidak berhenti pada bantuan, tetapi menciptakan pasar yang berkelanjutan bagi produk masyarakat.
Bireuen Tidak Cukup Hanya Menjadi Penghasil Bahan Pangan
Bireuen memiliki potensi besar untuk tidak hanya menjadi daerah penghasil bahan pangan, tetapi juga menjadi daerah yang mampu mengembangkan pengolahan dan pemasaran produk pertaniannya sendiri.
Hilirisasi menjadi kata kunci.
Petani seharusnya tidak selalu berhenti pada tahap menjual hasil panen dalam bentuk bahan mentah. Semakin banyak produk yang dapat diolah dan diberi nilai tambah di daerah, semakin besar pula peluang terciptanya lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat.
Namun, hilirisasi tidak dapat berjalan sendiri. Dibutuhkan infrastruktur, pembiayaan, teknologi, pendampingan, kepastian pasar, sumber daya manusia, dan kelembagaan ekonomi petani yang kuat.
Karena itu, pendampingan petani hingga tingkat kecamatan dan gampong merupakan investasi jangka panjang.
Petani tidak cukup hanya diberikan bantuan. Mereka perlu diperkuat pengetahuan, kapasitas produksi, akses pembiayaan, teknologi, informasi pasar, serta posisi tawarnya.
Harapan untuk Petani Bireuen
Apa yang telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Bireuen di bawah kepemimpinan Mukhlis menunjukkan bahwa sektor pertanian tetap menjadi salah satu bagian penting dalam agenda pembangunan daerah.
Namun, perjalanan menuju kesejahteraan petani tentu tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Dibutuhkan kebijakan yang konsisten, penganggaran yang tepat sasaran, koordinasi lintas sektor, serta evaluasi yang terukur.
Ke depan, setidaknya terdapat beberapa agenda yang penting untuk terus diperkuat.
Pertama, memastikan jaringan irigasi pertanian tetap terjaga dan mampu memenuhi kebutuhan lahan secara berkelanjutan.
Kedua, memperluas modernisasi pertanian agar manfaat teknologi dan mekanisasi dapat dirasakan lebih banyak petani.
Ketiga, memperkuat akses pasar dan hilirisasi agar petani memperoleh nilai tambah yang lebih besar dari hasil produksinya.
Keempat, memperkuat kelompok tani dan koperasi agar petani memiliki posisi tawar yang lebih baik dalam memperoleh sarana produksi maupun menjual hasil panen.
Kelima, memperluas diversifikasi pertanian sehingga pendapatan petani tidak hanya bergantung pada satu komoditas.
Keenam, memperkuat mitigasi risiko melalui asuransi pertanian, sistem peringatan dini, serta kebijakan penanganan bencana yang responsif terhadap kebutuhan petani.
Dan yang tidak kalah penting, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani harus menjadi salah satu indikator keberhasilan pembangunan pertanian.
Sebab, pada akhirnya pembangunan tidak hanya diukur dari berapa banyak infrastruktur yang dibangun, tetapi juga dari sejauh mana pembangunan tersebut mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Petani adalah Masa Depan Bireuen
Bicara tentang petani berarti bicara tentang masa depan puluhan ribu keluarga.
Bicara tentang sawah berarti bicara tentang ketahanan pangan. Bicara tentang irigasi berarti bicara tentang keberlanjutan produksi. Dan bicara tentang harga hasil pertanian berarti bicara tentang pendapatan keluarga masyarakat di gampong.
Karena itu, perhatian terhadap petani bukan sekadar program sektoral Dinas Pertanian dan Perkebunan. Ia merupakan bagian dari strategi pembangunan ekonomi daerah.
Bupati Mukhlis bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Bireuen tentu masih memiliki pekerjaan panjang untuk memastikan berbagai gagasan tersebut benar-benar diterjemahkan menjadi program yang efektif dan dirasakan manfaatnya oleh petani.
Harapannya, kebijakan yang telah berjalan dapat terus diperkuat, diperluas, dan dievaluasi secara terbuka.
Sebab, Bireuen yang maju bukan hanya Bireuen dengan pembangunan fisik yang berkembang, tetapi juga Bireuen yang petaninya mampu hidup layak dari hasil kerja mereka sendiri.
Pada akhirnya, petani adalah salah satu fondasi utama Bireuen. Jika fondasi itu kuat, produktif, dan sejahtera, maka pembangunan ekonomi daerah memiliki pijakan yang lebih kokoh.
Mukhlis dan petani adalah bagian dari perjalanan panjang tersebut: membangun Bireuen dari desa, dari sawah, dari hasil kerja masyarakat, menuju kesejahteraan yang lebih berkelanjutan.

