Oleh: Nurul Izzati
Mahasiswi Tadris Bahasa Indonesia, UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe.
Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus globalisasi, banyak tradisi perlahan mulai kehilangan ruang dalam kehidupan masyarakat. Generasi muda semakin akrab dengan budaya digital, sementara tradisi lokal sering kali hanya tersisa dalam dokumentasi media sosial. Namun di Aceh, khususnya di Desa Sawang, Aceh Utara, terdapat sebuah tradisi yang masih bertahan dan terus hidup dalam kehidupan masyarakat, yakni peusijuek.
Peusijuek bukan sekadar ritual adat, melainkan simbol doa, rasa syukur, harapan, dan ketenangan yang diwariskan secara turun-temurun dalam budaya Aceh. Tradisi ini masih dijalankan dalam berbagai momen penting, seperti pernikahan, khitanan, kenaikan pangkat, keberangkatan haji dan umrah, hingga memasuki fase baru dalam kehidupan. Kehadirannya menjadi bukti bahwa masyarakat Aceh masih memegang erat nilai budaya dan spiritual di tengah perubahan zaman.
Di era yang serba cepat dan praktis, peusijuek justru mengajarkan pentingnya berhenti sejenak untuk berdoa dan mensyukuri perjalanan hidup. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa setiap langkah penting dalam kehidupan sebaiknya diawali dengan rasa syukur dan permohonan kepada Tuhan. Nilai-nilai seperti inilah yang semakin dibutuhkan ketika kehidupan modern dipenuhi tekanan, persaingan, dan kesibukan yang kerap membuat manusia jauh dari ketenangan batin.
Secara lahiriah, prosesi peusijuek terlihat sederhana. Perlengkapan yang digunakan hanya berupa air, tepung tawar, padi, beras, daun-daunan tertentu, serta ketan kuning. Namun di balik kesederhanaan itu, setiap unsur memiliki makna filosofis yang mendalam.
Air dan tepung tawar yang dipercikkan melambangkan kesejukan dan penyucian diri. Beras dan padi menjadi simbol kesuburan, kesejahteraan, serta keberlangsungan hidup. On seunijuek melambangkan ketenangan, kesabaran, dan kesejukan hati dalam menghadapi kehidupan. Sementara naleung sambo, rumput yang memiliki akar kuat dan mampu tumbuh di tanah keras, menjadi simbol keteguhan dan kekuatan menghadapi cobaan hidup.
Selain itu, manek manoe dengan warna-warni daun melambangkan keharmonisan dan kerukunan dalam kehidupan sosial. Seluruh unsur tersebut kemudian disatukan dalam seunikat sebagai lambang persatuan nilai-nilai baik dalam kehidupan masyarakat. Bu lukat kuneng atau ketan kuning menjadi simbol perekat kebersamaan dan persaudaraan. Sementara dalong dan sange melambangkan kehormatan dan kemuliaan dalam pelaksanaan adat. Seluruh rangkaian prosesi kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh teungku untuk memohon keberkahan dan perlindungan kepada Allah SWT.
Makna filosofis tersebut menunjukkan bahwa peusijuek bukan hanya tradisi adat, tetapi juga media pendidikan nilai bagi masyarakat Aceh. Tradisi ini mengajarkan pentingnya kebersamaan, keteguhan, rasa syukur, dan hubungan spiritual manusia dengan Tuhan.
Namun demikian, tantangan terbesar peusijuek saat ini adalah menurunnya keterlibatan generasi muda. Banyak anak muda mulai menganggap tradisi sebagai sesuatu yang kuno dan kurang relevan dengan perkembangan zaman. Budaya instan dan dominasi media digital membuat sebagian generasi muda lebih dekat dengan budaya global dibandingkan budaya daerahnya sendiri.
Padahal, di tengah globalisasi, identitas budaya justru menjadi kekuatan penting suatu masyarakat. Peusijuek merupakan salah satu warisan budaya Aceh yang memiliki nilai spiritual dan sosial yang kuat serta tidak dimiliki oleh daerah lain. Tradisi ini dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat identitas budaya Aceh di tengah dunia yang semakin homogen.
Karena itu, pelestarian peusijuek perlu dilakukan dengan pendekatan yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. Tradisi ini dapat diperkenalkan melalui media digital dalam bentuk dokumentasi video, tulisan, maupun konten edukatif yang menarik bagi generasi muda. Dengan cara tersebut, peusijuek tidak hanya dipandang sebagai tradisi lama, tetapi juga sebagai warisan budaya yang relevan dan membanggakan.
Selain memiliki nilai spiritual, peusijuek juga mengandung nilai sosial yang sangat kuat. Tradisi ini mempertemukan keluarga, tetangga, dan masyarakat dalam suasana kebersamaan dan persaudaraan. Di masa depan, ketika interaksi manusia semakin banyak berlangsung secara virtual, momen kebersamaan seperti ini akan menjadi semakin berharga.
Pada akhirnya, tradisi memang perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Namun penyesuaian tersebut tidak boleh menghilangkan nilai utamanya. Selama peusijuek tetap menjaga makna doa, syukur, harapan, dan kebersamaan, tradisi ini akan terus hidup dan relevan dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Di tengah dunia yang terus berubah, manusia tetap membutuhkan ketenangan, doa, dan makna dalam setiap perjalanan hidupnya. Karena itu, peusijuek bukan hanya peninggalan masa lalu, melainkan bagian penting dari masa depan identitas budaya Aceh.






