Lewati ke konten

Opini: Ruang Kreatif, Investasi Masa Depan Kota Lhokseumawe

Redaksi 27 Oktober 2026 · 16:11 WIB
Bagikan
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp MediaKontras.ID
Gabung

Oleh: Muhammad Furqan (Ketua Umum PW GPI Aceh)

​Gagasan Walikota Lhokseumawe, Dr. Sayuti Abubakar, S.H., M.H., dalam menghadirkan program “Ruang Kreatif Pemuda” merupakan langkah progresif untuk mendorong pengembangan potensi generasi muda. Program ini diproyeksikan sebagai katalisator bagi anak muda untuk mengekspresikan kreativitas, membangun kemandirian, melahirkan inovasi, dan meningkatkan daya saing. Kehadiran pemerintah secara langsung dalam proses kemandirian pemuda ini menunjukkan komitmen nyata negara dalam menyediakan ruang tumbuh bagi generasi penerus.

​Secara sosiologis, inisiatif ini dapat dibedakan melalui dua pendekatan teoretis. Pertama, Teori Peran (Role Theory), di mana pemuda berada dalam fase krusial untuk mempelajari, menguji, dan menjalankan berbagai peran sosial baru di masyarakat—baik sebagai pelajar, pekerja, aktivis, maupun bagian dari komunitas. Kedua, Teori Fungsionalisme Struktural, yang memandang pemuda sebagai elemen dinamis penjaga keharmonisan dan integrasi sosial melalui wadah organisasi atau kelompok yang sehat.

​Penguatan Program dan Akselerasi Rumah Kreatif

​Penyelesaian pembangunan Rumah Kreatif Pemuda dan optimalisasi penganggaran selama ini memegang peranan vital dalam menjawab kebutuhan riil di lapangan. Selama ini, alokasi anggaran kepemudaan telah diarahkan untuk menggerakkan berbagai program pemberdayaan dan pelatihan keterampilan aplikatif, mulai dari kursus barbershop, barista, mekanik/montir, kreator konten (content creator), servis AC, kriya, menjahit, hingga sektor strategis seperti migas.

​Dengan tuntasnya infrastruktur Rumah Kreatif Pemuda, seluruh program pelatihan tersebut kini memiliki “rumah” permanen yang terintegrasi. Hal ini memastikan agar program tidak sekadar menjadi simbol pembangunan artifisial, melainkan bertransformasi secara fungsional menjadi inkubator gagasan, karya, dan pusat penciptaan peluang ekonomi baru bagi generasi muda. Pemerintah Kota Lhokseumawe tentu perlu memastikan partisipasi aktif pemuda serta transparansi tata kelola agar manfaatnya benar-benar berdampak langsung.

​Tantangan Anggaran dan Sinergi Kebijakan

​Kendati demikian, isu keberpihakan anggaran terhadap sektor kepemudaan secara makro masih menjadi pekerjaan rumah tersendiri. Dalam sebuah momen diskusi bersama jajaran Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Islam (GPI) yang dipimpin Ketum Khoirul Amin, didampingi Pimpinan KNPI Aceh, kami diterima oleh Kadispora Aceh, T. Banta, didampingi Kabid Pengembangan Pemuda, Masri Amin.

​Dalam pertemuan tersebut, terungkap fakta bahwa porsi keberpihakan terhadap kepemudaan masih tertinggal jika dibandingkan dengan sektor olahraga yang memiliki kepastian kalender ajang (event) tahunan. Sebaliknya, program kepemudaan kerap belum ditopang oleh perencanaan postur anggaran yang matang di luar usulan mandiri Organisasi Kepemudaan (OKP).

​Ke depan, Dispora Aceh mendorong agar OKP bersama KNPI dapat bersinergi mengawal kebijakan afirmatif bagi kepemudaan. Langkah konkret melalui agenda coffee morning atau silaturahmi bulanan yang diinisiasi Dispora merupakan terobosan positif untuk menyerap aspirasi dan merawat produktivitas pemuda, sekaligus upaya preventif membentengi generasi muda dari potensi penyimpangan sosial seperti judi online dan narkoba.

​Kolaborasi Lintas Sektor dan Fondasi Kota Berjaya

​Kembali pada esensi gagasan Walikota Lhokseumawe, Rumah dan Ruang Kreatif Pemuda harus difungsikan sebagai ekosistem kolaboratif tempat pemuda bertukar gagasan, memperluas jejaring, dan menghasilkan karya berdampak. Fasilitas ini perlu terus diperkuat dengan pendampingan usaha lanjutan serta kolaborasi lintas sektor bersama komunitas dan perguruan tinggi.

​Pemerintah juga berkewajiban memastikan bahwa fasilitas tersebut inklusif, mudah diakses, dan memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh elemen pemuda. Dalam berbagai ruang diskusi, mahasiswa dan kaum muda seringkali menyuarakan minimnya atensi struktural; oleh karena itu, inisiatif Walikota Lhokseumawe ini patut didukung penuh dan dikawal implementasinya. Pemuda berdaya adalah fondasi kota berjaya.

​Pada akhirnya, investasi terbaik bagi masa depan sebuah kota tidak hanya diukur dari megahnya infrastruktur fisik, melainkan dari kualitas sumber daya manusianya. Kehadiran Rumah Kreatif Pemuda harus menjadi manifestasi nyata untuk melahirkan generasi Lhokseumawe yang produktif, berdaya saing, dan mampu mengambil peran sentral dalam pembangunan daerah.

Topik
Bagikan