Banda Aceh, MediaKontras.id | Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PW PII) Aceh resmi membuka kegiatan Leadership Advance Training (LAT) dan Pendidikan Instruktur Dasar (PID) Nasional 2026 mengusung tema “From Learner To Leader: Melahirkan Generasi Bangsa yang Bermartabat”. Kegiatan yang berlangsung pada 9 s.d 18 Juli 2026 tersebut dibuka di Balai Kota Banda Aceh, Kamis (9/7/2026), dan akan dilanjutkan di Mess Dispora Aceh.
Ketua Organizing Committee (OC), Rini Safitri, dalam laporannya menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta Leadership Advance Training. Menurutnya, pelatihan ini dirancang sebagai ruang pembelajaran sekaligus ruang latihan bagi generasi muda untuk mengembangkan kapasitas kepemimpinan.
“Kegiatan ini menjadi wadah pembinaan bagi generasi muda yang masih terus belajar. Kami menghadirkan proses pembelajaran sekaligus ruang latihan agar peserta mampu berkembang menjadi pemimpin yang berkualitas,” ujar Rini.
Ia menjelaskan, sebanyak 20 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka akan dibina secara intensif agar mampu menjadi instruktur sekaligus kader yang siap melahirkan pemimpin-pemimpin baru di Aceh.
Rini juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, arahan, dan doa sehingga kegiatan dapat terselenggara dengan baik.
“Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dan mendukung pelaksanaan kegiatan ini. Semoga ikhtiar bersama ini melahirkan kader-kader terbaik bagi bangsa,” katanya.
Sebagai Ketua Bidang Kaderisasi PW PII Aceh, Rini menegaskan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam organisasi. Menurutnya, kepemimpinan bukan sekadar soal posisi, tetapi tentang kebermanfaatan bagi sesama.
“Perempuan bukan hanya mampu berdiri, tetapi juga memimpin dan mengelola organisasi. Kepemimpinan bukan tentang siapa yang memimpin, melainkan siapa yang paling memberi manfaat,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Umum PW PII Aceh, Mohd Rendi Febriansyah, menegaskan bahwa salah satu fokus organisasi saat ini adalah memperkuat peran perempuan dalam memberikan kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat.
Ia mengatakan, PII Aceh kini lebih memfokuskan diri pada penyelesaian berbagai persoalan sosial daripada sekadar melaksanakan kegiatan yang bersifat seremonial.
“Kami ingin organisasi hadir melalui aksi nyata. PII tidak lagi hanya berbicara kegiatan seremonial, tetapi bagaimana memberikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Rendi, sejumlah isu strategis yang menjadi perhatian PII Aceh di antaranya persoalan LGBT, perjudian daring (online), tindak asusila, hingga advokasi terhadap anak-anak yang putus sekolah.
“Kami optimistis terus berkontribusi dalam menghadapi berbagai persoalan sosial di Aceh, termasuk memerangi praktik judi online dan berbagai penyimpangan sosial lainnya sesuai dengan nilai-nilai yang kami yakini,” katanya.
Selain itu, PII Aceh juga aktif menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD), melakukan pendampingan terhadap anak-anak putus sekolah, serta berbagai aksi kepedulian lingkungan seperti penanaman mangrove.
Ketua Umum Pengurus Wilayah Keluarga Besar PII (PW KB PII) Aceh, Muslem Yacob, mengatakan bahwa seorang kader PII tidak hanya dituntut pandai berbicara, tetapi juga memiliki prinsip yang kuat dalam menghadapi tantangan kehidupan.
“Kepemimpinan adalah amanah yang harus dipersiapkan dengan sungguh-sungguh,” ujarnya.
Muslem menilai kaderisasi merupakan investasi terbesar bagi organisasi. Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan arus informasi, bangsa justru dihadapkan pada berbagai tantangan moral.
“Kita hidup di era ketika informasi tersedia di mana-mana, tetapi juga menghadapi krisis moral. Karena itu bangsa ini tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pintar, tetapi juga pribadi-pribadi yang bermartabat. Dalam Islam, kepemimpinan bukan sesuatu yang dibanggakan, melainkan amanah yang akan dipertanggungjawabkan,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PB PII), Amsal, menegaskan bahwa selama hampir delapan dekade berdiri, PII telah konsisten melahirkan banyak pemimpin bangsa melalui proses kaderisasi yang berkelanjutan.
“PII telah memasuki usia ke-79 tahun. Sebagai organisasi kader, PII tetap muda karena terus menghadirkan gagasan dan semangat pembaruan yang tidak pernah berhenti,” ujarnya.
Menurut Amsal, tantangan pelajar saat ini semakin kompleks sehingga diperlukan kolaborasi berbagai pihak untuk membenahi kualitas pendidikan dan pembinaan generasi muda.
Ia mengungkapkan bahwa PB PII saat ini menjalin kerja sama dengan Kementerian Sosial, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Kementerian Agama dalam mendukung penanganan pelajar yang putus sekolah maupun yang belum menyelesaikan pendidikan.
“PII akan terus melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa melalui sistem kaderisasi yang berjenjang, mulai dari Basic Training, Intermediate Training, hingga Advance Training. Kepemimpinan bukan hanya soal memimpin, tetapi tentang menyiapkan regenerasi yang mampu membawa perubahan bagi bangsa,” tutup Amsal.
Leadership Advance Training dan Pendidikan Instruktur Dasar Nasional 2026 diharapkan menjadi momentum lahirnya kader-kader PII yang memiliki kapasitas kepemimpinan, integritas moral, serta kompetensi sebagai instruktur untuk memperkuat proses kaderisasi dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Aceh maupun Indonesia.






