MediaKontras.id | Mengenal dunia kompetisi bukanlah hal baru bagi Sayyida, mahasiswa jurusan Psikologi Islam sekaligus anggota Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKPM) Zawiyah News.
Namun, langkah kakinya menuju Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) IV Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Sumatera kali ini membawa nuansa yang jauh berbeda.
Dibalik kesiapannya menghadapi ketatnya persaingan tingkat regional secara daring pada 9 September mendatang, tersimpan cerita tentang keberanian melawan keraguan diri demi mengharumkan nama kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa, Senin, 7 September 2026.
Perjalanan Sayyida bermula dari informasi lomba yang disampaikan oleh Pembina UKPM Zawiyah, Ridwan S.Pd.i, MA di grup whatsapp. Dorongan tersebut membakar semangatnya untuk naik tingkat. Sebelumnya, ia telah memiliki pengalaman di ajang penulisan cerpen, namun partisipasi dalam ajang sekelas PKM PTKIN Se-Sumatera ini merupakan pengalaman pertamanya berkompetisi di jenjang yang lebih tinggi.
Menjelang hari perlombaan yang dilangsungkan secara daring pada 9 September, berbagai persiapan matang pun mulai ia dipersiapkan. Persiapan tersebut mencakup penguatan mental, latihan menulis secara berkala, penguasaan berbagai isu strategis, hingga penyiapan perangkat dan jaringan internet yang andal demi kelancaran kompetisi jarak jauh.
Tantangan dalam ajang ini kian menguji mental para peserta, terutama karena tema spesifik baru akan diumumkan secara mendadak saat perlombaan dimulai. Meskipun demikian, cakupan isu yang diangkat sangat luas dan sarat makna, mulai dari kebudayaan, moderasi beragama, hingga isu lingkungan hidup yang krusial.
”Sebenarnya perasaannya biasa-biasa aja, cuman karena seringkali gagal, jadi tiap hari overthinking apa bisa kali ini, takut mengecewakan orang sekitar,” ungkap Sayyida.
Suasana kompetisi daring ini pun terasa semakin semarak dengan keterlibatan mahasiswa dari berbagai latar belakang organisasi. Selain penulisan, ternyata ada perwakilan dari unit seni seperti anak-anak sanggar tari yang mempersiapkan diri mengikuti lomba tari kreasi.
Dukungan penuh turut mengalir dari sang pembina, Ridwan, yang merasa bangga dan bersyukur atas keberanian salah satu anggotanya melangkah ke ajang regional ini. Menurutnya, keikutsertaan Sayyida bukan sekadar memburu kemenangan, melainkan wadah menempa diri.
”Ini bukan sekadar perlombaan, melainkan wadah untuk mengasah kemampuan, melatih keberanian, dan mengukir pengalaman berharga,” ujar Ridwan.
Ia berpesan agar Sayyida tidak terlalu terpaku pada hasil akhir, melainkan menikmati proses belajar, memperluas jaringan, serta menjadikan momen ini sebagai sarana berdakwah melalui tulisan.
“Jaga semangat dan ikhlas. Apapun hasilnya, jadikan itu penyemangat untuk terus berkarya dan meningkatkan kualitas diri. Tetaplah rendah hati, karena ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan dan dibagikan untuk orang lain,” tambahnya.
Semangat yang dibawa Sayyida juga sejalan dengan visi besar lembaganya. UKPM Zawiyah News ke depannya diharapkan tidak hanya menjadi lembaga berita yang informatif, tetapi juga inspiratif dan berakhlak mulia.
Lembaga ini berkomitmen untuk terus melahirkan wartawan-wartawan muda yang berkompeten, berintegritas, dan berpegang teguh pada nilai-nilai Islam, serta menyajikan berita yang benar, bermanfaat, dan menyejukkan tanpa menyebarkan perpecahan.
Kisah Sayyida membuktikan bahwa rasa takut dan bayang-bayang kegagalan bukanlah alasan untuk berhenti melangkah. Lewat persiapan yang matang menjelang 9 September serta dukungan penuh dari pembina dan organisasinya, ia siap menepis keraguan dan membuktikan kapasitas terbaiknya di kancah regional Sumatera, membawa harapan agar Zawiyah News semakin dikenal, dipercaya, dan terus mencetak prestasi di masa depan, Semoga. [ian/dh]

