Pascasarjana IAIN Langsa Matangkan Visi Keilmuan dan Kurikulum Program Doktor Studi Islam 

Rektor IAIN Langsa, Prof. Ismail Arrauf Nasution didampingi Plt. Direktur Pascasarjana, Dr. Amiruddin Yahya Azzawiy, menggelar Workshop Visi Keilmuan dan Kurikulum Program Doktor (S3) Studi Islam, Rabu, 13 Mei 2026. Foto/ist.

Pascasarjana IAIN Langsa Matangkan Visi Keilmuan dan Kurikulum Program Doktor Studi Islam 

Rektor IAIN Langsa, Prof. Ismail Arrauf Nasution didampingi Plt. Direktur Pascasarjana, Dr. Amiruddin Yahya Azzawiy, menggelar Workshop Visi Keilmuan dan Kurikulum Program Doktor (S3) Studi Islam, Rabu, 13 Mei 2026. Foto/ist.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp MediaKontras.ID

MediaKontras.id | IAIN Langsa menggelar Workshop Visi Keilmuan dan Kurikulum Program Doktor (S3) Studi Islam Pascasarjana pada 13–14 Mei 2026 di Ruang Rapat Direktur Pascasarjana. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah akademisi dan guru besar, di antaranya Prof. Hasan Asari dan Prof. Dr. Danial sebagai upaya mematangkan arah pengembangan program doktor berbasis integrasi keilmuan Islam.

Workshop tersebut menjadi langkah strategis IAIN Langsa dalam mempersiapkan pembukaan Program Doktor Studi Islam yang diharapkan mampu melahirkan akademisi, intelektual, dan ulama moderat yang relevan dengan kebutuhan masyarakat kontemporer.

Plt. Direktur Pascasarjana, Dr. Amiruddin Yahya Azzawiy menyampaikan bahwa pengembangan program doktor merupakan bagian dari penguatan kapasitas akademik Pascasarjana IAIN Langsa. “Ke depan kita juga berupaya membuka program studi lain seperti Manajemen Pendidikan. Program Studi Islam ini merupakan gagasan besar yang melihat Islam dalam berbagai aspek, baik sosial, ekonomi, lingkungan maupun sejarah,” ujar Dr Emi, Rabu, 13 Mei 2026.

Ia menegaskan bahwa Studi Islam pada level doktor tidak hanya berfokus pada kajian fikih tekstual, tetapi membuka ruang multidisipliner sesuai kebutuhan riset mahasiswa. “Mahasiswa nantinya dapat dibimbing sesuai peminatan masing-masing. Mata kuliah dirancang untuk mendukung penyelesaian disertasi secara mendalam dan terarah,” tambahnya.

Sementara itu, Rektor IAIN Langsa, Prof. Dr. H. Ismail Fahmi Arrauf, Nst. menegaskan bahwa keberadaan program doktor menjadi simbol kematangan akademik sebuah perguruan tinggi. “Kalau sebuah kampus belum memiliki program doktor, maka belum sepenuhnya matang secara akademik. Karena itu penyusunan kurikulum harus dilakukan secara hati-hati dan tidak terburu-buru,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Program Doktor Studi Islam IAIN Langsa dibangun di atas paradigma integrasi dan interkoneksi ilmu yang menempatkan wahyu dan akal sebagai satu kesatuan dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Kajian Islam tidak hanya dipahami secara tekstual, tetapi juga kontekstual melalui pendekatan multidisipliner.

Rektor juga memaparkan konsep islamisasi ilmu yang diarahkan pada rekonstruksi sains berbasis nilai dengan menjadikan wahyu sebagai sumber epistemologi utama. Sementara integrasi ilmu menekankan penyatuan wahyu dan akal, sedangkan interkoneksi diwujudkan melalui dialog terbuka antarbidang ilmu.

Program doktor ini memiliki tiga pilar utama pengembangan keilmuan, yakni Integrasi–Interkoneksi, Islam Nusantara, dan Islam Kontemporer. Pilar Islam Nusantara menyoroti kekhasan Islam moderat di Asia Tenggara, khususnya kearifan lokal Aceh dan sejarah keilmuan Islam melalui Zawiyah Cot Kala.

Adapun pilar Islam Kontemporer diarahkan untuk merespons isu-isu global seperti digitalisasi, ekologi, hak asasi manusia, pendidikan Islam modern, hingga hukum Islam kontemporer. “IAIN Langsa bukan hanya menambah jenjang akademik, tetapi sebuah ikhtiar untuk mengelola masa depan keilmuan Islam yang moderat, berdampak, dan berpengaruh terhadap peradaban,” kata Rektor.

Dalam sesi diskusi, sejumlah guru besar dan stakeholder turut memberikan masukan terhadap pengembangan Program Doktor Studi Islam. Muslem menekankan pentingnya keseimbangan antara gelar akademik dan kualitas keilmuan mahasiswa doktoral. “Yang terpenting bukan hanya gelarnya, tetapi bagaimana kualitas keilmuan benar-benar bertambah dan dirasakan manfaatnya,” ujarnya.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama IAIN Langsa, Prof. Dr. Iskandar, M.CL menilai Program Doktor Studi Islam harus memiliki kekhasan tersendiri dibanding perguruan tinggi lain. Ia menegaskan bahwa orientasi doktoral bukan sekadar memperoleh jabatan, tetapi meningkatkan kapasitas berpikir dan kontribusi intelektual bagi masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, Prof. Danial menyampaikan bahwa kehadiran program doktor di Langsa menjadi peluang besar bagi masyarakat Aceh untuk melanjutkan pendidikan tinggi tanpa harus keluar daerah. “Ada program doktor di Langsa, jadi tidak perlu jauh-jauh lagi. Yang kita harapkan adalah lahirnya kematangan akademik yang aplikatif dan benar-benar dirasakan masyarakat,” katanya.

Dalam closing statement, Direktur Pascasarjana menegaskan bahwa seorang doktor harus memiliki cara berpikir filosofis dan mampu melihat persoalan masyarakat secara mendalam dan integratif. Ia juga meluruskan pemahaman tentang Islam Nusantara sebagai Islam yang tumbuh dan berkembang di kawasan Nusantara dengan kekayaan budaya dan sejarahnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya transformasi keilmuan Islam yang tidak berhenti pada aspek ritual semata, tetapi dapat dikaji melalui berbagai perspektif ilmu pengetahuan. “Doktor itu gelar akademik, sedangkan profesor adalah jabatan akademik. Program doktor harus melahirkan pemikiran, gagasan, dan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Workshop tersebut juga membahas roadmap pengembangan Program Doktor Studi Islam IAIN Langsa, mulai dari penerimaan mahasiswa perdana, penguatan kapasitas dosen, pengembangan infrastruktur riset, hingga target menjadi pusat rujukan kajian Islam unggulan di Sumatera dan Asia Tenggara. Rektor IAIN Langsa optimistis program doktor ini akan berkembang dan memberikan dampak besar bagi pembangunan peradaban berbasis ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam moderat. [ian]