Lewati ke konten

Pemuda Dewan Dakwah Aceh Sesalkan Kericuhan Maulid di Tiro Pidie

Redaksi 6 November 2026 · 16:30 WIB
Bagikan
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp MediaKontras.ID
Gabung

Banda Aceh, MediaKontras.id | Pemuda Dewan Dakwah Aceh menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden kericuhan yang terjadi saat pelaksanaan Kenduri Maulid Nabi Muhammad SAW di Gampong Pulo Keunari, Kecamatan Tiro/Truseb, Kabupaten Pidie. Peristiwa tersebut mengakibatkan satu warga meninggal dunia dan sejumlah lainnya luka-luka.

Ketua Umum Pemuda Dewan Dakwah Aceh, Alimuddin Armia, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan mendoakan kesembuhan bagi warga yang terluka. Ia menilai insiden tersebut sangat disayangkan karena terjadi di tengah momentum yang seharusnya mempererat persaudaraan antarumat.

“Kami sangat menyesalkan tragedi di Tiro. Maulid Nabi seharusnya menjadi momentum mempererat persaudaraan dan memperkuat persatuan umat. Sangat ironis kegiatan keagamaan justru berakhir dengan duka,” ujar Alimuddin di Banda Aceh, Rabu (4/11/2026).

Alimuddin mengimbau seluruh pihak yang terlibat agar menahan diri dan tidak mengambil tindakan provokatif yang dapat memperkeruh situasi. Ia menegaskan, segala persoalan hendaknya diselesaikan melalui dialog, musyawarah, serta proses hukum yang berlaku.

“Aceh tidak membutuhkan pertikaian baru. Yang dibutuhkan saat ini adalah ketenangan, persatuan, dan komitmen menjaga kedamaian,” tegasnya.

Lebih lanjut, Alimuddin mengingatkan bahwa Aceh telah memasuki 21 tahun masa perdamaian pasca-penandatanganan MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005. Menurutnya, perdamaian yang telah dipelihara selama lebih dari dua dekade merupakan ikhtiar bersama yang wajib dijaga oleh seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda.

“Sudah 21 tahun Aceh menikmati perdamaian. Kita tidak ingin sejarah kelam konflik kembali membayangi masyarakat. Menjaga perdamaian adalah tanggung jawab bersama,” lanjutnya.

Pemuda Dewan Dakwah Aceh juga mendorong aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas insiden tersebut secara transparan, objektif, dan adil. Fakta peristiwa harus dibuka secara terang, korban mendapatkan penanganan layak, dan pelaku pelanggaran ditindak sesuai aturan hukum.

Mengakhiri keterangannya, Alimuddin mengajak ulama, tokoh masyarakat, dan pemuda untuk aktif meredam potensi konflik serta menciptakan suasana yang kondusif.

“Jadikan Maulid momentum memperkuat ukhuwah Islamiyah dan merawat persatuan. Jangan jadikan peringatan Maulid sebagai luka baru di Aceh,” pungkasnya.

Topik
Bagikan