Banda Aceh, MediaKontras.id | Pakar geofisika, akademisi juga ketua umum Yayasan Beudoh Gampong (YBG), Prof. Dr. Ir. Teuku Abdullah Sanny, M.Sc., melakukan kunjungan lapangan ke lokasi budidaya lobster, ikan kerapu, dan ikan kakap di sekitar Jembatan Ulee Lheue, Banda Aceh.
Kunjungan ini digelar guna meninjau langsung tata kelola perikanan budidaya sekaligus mengidentifikasi potensi penerapan teknologi tepat guna bagi masyarakat pesisir. Dalam kunjungan tersebut, Prof. Teuku Abdullah Sanny, M.Sc., berdiskusi langsung dengan para pembudidaya lokal yang mengoperasikan keramba jaring apung di kawasan perairan Ulee Lheue Banda Aceh. Komoditas yang dikembangkan, seperti lobster, ikan kerapu, dan ikan kakap, dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi dan prospek pasar yang menjanjikan Provinsi Aceh. Prof. Teuku Abdullah Sanny, M.Sc., menyampaikan bahwa optimalisasi sektor perikanan budidaya memerlukan sinergi antara potensi alam dan pemanfaatan ilmu pengetahuan.
Kawasan perairan di sekitarnya Jembatan Ulee Lheue Banda Aceh memiliki struktur ekosistem yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi sentra budidaya perikanan yang produktif dan berkelanjutan.
“Kawasan Ulee Lheue memiliki posisi yang sangat strategis. Jika budidaya lobster, kerapu, dan kakap dikelola dengan pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tepat, sektor ini dapat menjadi penopang utama perekonomian masyarakat pesisir,” ujar Prof.
Teuku Abdullah Sanny di sela-sela peninjauan. Beberapa poin utama yang menjadi perhatian dalam peninjauan ini antara lain:
• Penerapan Teknologi Budidaya: Penggunaan konstruksi keramba jaring apung yang lebih tahan terhadap dinamika gelombang serta arus perairan pesisir.
• Pengawasan Kualitas Lingkungan: Pemantauan parameter air laut seperti tingkat salinitas dan kebersihan guna meminimalisasi risiko penyakit pada lobster dan ikan.
• Peningkatan Nilai Tambah Ekonomi: Mendorong tata kelola pascapanen agar komoditas unggulan Ulee Lheue mampu menembus pasar lokal maupun antardaerah dengan standar kualitas tinggi. Para pembudidaya menyambut positif kunjungan dan perhatian tersebut.
Kehadiran akademisi di lapangan diharapkan mampu mendorong lahirnya pendampingan teknis secara berkelanjutan, serta menghadirkan Ivestor luar untuk dapat bekerja sama sekaligus memperkuat kolaborasi antara akademisi, masyarakat, dan pemerintah daerah dalam memajukan sektor bahari Aceh.

