Lewati ke konten

Penguatan Kapasitas HAM Dorong SDN 25 Lhoksukon Jadi Sekolah Ramah Anak

Redaksi 16 September 2026 · 12:58 WIB
Bagikan
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp MediaKontras.ID
Gabung

Lhoksukon, MediaKontras.id |  Kantor Wilayah Kementerian Hak Asasi Manusia Provinsi Aceh melalui Penggerak HAM melaksanakan kegiatan Penguatan Kapasitas HAM untuk Generasi Emas Indonesia di SD Negeri 25 Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, Selasa (15/9/2026).

 

Kegiatan yang mengusung tema “Membangun Generasi Emas yang Berani Peduli, Berani Menghargai dan Berani Melindungi” tersebut diikuti oleh sekitar 120 siswa/i dqri kelas 3 s.d 6 dan seluruh dewan guru SD Negeri 25 Lhoksukon. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat pemahaman dan kesadaran HAM sejak usia dini sekaligus membangun karakter generasi muda yang peduli terhadap sesama.

 

Materi disampaikan oleh Marzuki AR, Penggerak HAM Aceh Utara, yang mengajak para siswa memahami pentingnya saling menghormati, menghargai perbedaan, membantu teman, menjaga hak orang lain, serta berani menyampaikan atau melaporkan apabila melihat tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan.

 

Salah satu pesan penting yang ditekankan dalam kegiatan tersebut adalah pentingnya membangun lingkungan sekolah yang aman, ramah, inklusif, dan bebas dari perundungan (bullying). Melalui gerakan #StopBullying, para siswa diajak untuk tidak menjadi pelaku maupun penonton yang membiarkan perundungan terjadi, tetapi berani peduli dan melindungi teman yang menjadi korban.

 

Kepala Sekolah: Pendidikan HAM Harus Dimulai Sejak Dini

 

Kepala SD Negeri 25 Lhoksukon, Nurlela, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan yang difasilitasi oleh Kantor Wilayah Kementerian HAM Provinsi Aceh melalui Penggerak HAM tersebut.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini karena pendidikan HAM memang sangat penting dikenalkan kepada anak-anak sejak dini. Anak-anak perlu memahami bagaimana menghargai teman, menghormati guru, menghargai perbedaan dan yang paling penting tidak melakukan bullying. Kami berharap kegiatan ini memberikan dampak positif bagi seluruh siswa dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Nurlela.

 

Ia juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga tercipta budaya sekolah yang semakin ramah anak, aman, saling menghargai, dan bebas dari bullying.

 

Sementara itu, Marzuki AR menegaskan bahwa generasi emas Indonesia tidak hanya harus memiliki kemampuan akademik, tetapi juga karakter yang kuat dan memiliki kepedulian terhadap sesama.

“Generasi emas adalah generasi yang berani melakukan hal-hal baik. Berani peduli ketika melihat orang lain membutuhkan bantuan, berani menghargai setiap perbedaan, dan berani melindungi orang lain dari tindakan yang merugikan atau menyakiti. Sekolah merupakan tempat yang sangat strategis untuk menanamkan nilai-nilai tersebut,” ungkapnya.

 

Kegiatan tersebut diharapkan menjadi langkah nyata dalam membangun kesadaran HAM di lingkungan pendidikan sekaligus membentuk karakter siswa yang peduli, toleran, menghargai sesama, berani melawan bullying, dan mampu menjadi bagian dari generasi emas Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Bagikan